Geliat Pindad Tapaki Bisnis Dual Use di Tahun Pandemi
Kerjasama Antar BUMN, Kementerian/Lembaga Dalam dan Luar Negeri
PT Pindad (Persero) sudah menggandeng 6 BUMN dalam bekerja sama untuk meningkatkan performa korporasi. Kerja sama ini merupakan sinergi antar-BUMN yang dicanangkan oleh Kementerian BUMN. Penandatanganan tersebut dilakukan pada 6 April 2019. Kerja sama ini melibatkan Pindad dengan PT Angkasa Pura II. Kedua belah pihak tersebut menjajaki kerja sama dalam bidang pengembangan peralatan kebandarudaraan, termasuk layanan manajerial dari peralatan tersebut. Selain itu, Pindad juga menggandeng PT Pertamina Bina Merdeka IHC, PT Krakatau Medika, dan PT PP Properti Tbk dalam rangka perencanaan dan persiapan pembangunan Rumah Sakit Umum Pindad. Kerja sama tersebut turut memuat kesepakatan seluruh pihak terkait dalam optimalisasi dan pengembangan potensi strategis dalam proyek tersebut.
Tak hanya itu, Pindad juga menjalin kerja sama dengan PT Industri Nuklir Indonesia (INUKI) untuk pengolahan material berbasis teknologi nuklir milik INUKI. Material tersebut akan digunakan bagi kepentingan teknologi senjata milik Pindad. Sementara itu, Pindad juga bekerja sama dengan PT PPA Finance terkait dengan produksi, penjualan produk, sekaligus pemberian fasilitas pembiayaan. Selain itu, Pindad juga meresmikan 7 fasilitas produksi amunisi terbaru. Fasilitas tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas seiring dengan naiknya permintaan produk, baik dari pasar domestik maupun pasar internasional. Ketujuh fasilitas tersebut di antaranya adalah; gedung proses assembling amunisi kaliber 5,56 mm, gedung proses pembuatan komposisi primer dan gedung proses loading primer.
Delegasi Filipina, Undersecretary for Finance and Materiel, Department of National Defense Philipina, Mr. Raymundo Dv Elefante didampingi Dirjen Pothan Kemhan, Ibu Bondan Tiara Sofyan melaksanakan kunjungan ke PT Pindad (Persero) pada Jumat, 28 Februari 2020. Kunjungan merupakan tindak lanjut penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Republik Philipina tentang kerjasama bidang logistik dan industri pertahanan. Rombongan diterima oleh Direktur Utama PT Pindad (Persero), Abraham Mose beserta Direksi Industri Pertahanan dalam negeri lainnya.
Kedua negara menyepakati pembentukan kerja sama bidang logistik dan industri pertahanan yang bertujuan untuk memperkuat kolaborasi industri pertahanan khususnya pengadaan alutsista dan produk industri pertahanan lainnya. Dirut PINDAD (Persero) Abraham Mose, menyambut hangat kedatangan Delegasi Philipina beserta rombongan untuk memperlihatkan berbagai alutsista unggulan dan fasilitas produksi Pindad. “Kami mengucapkan selamat datang kepada rombongan Delegasi Philipina serta Dirjen Pothan Kemhan RI. Hari ini kita akan memperlihatkan Medium Tank (FNSS-PINDAD Harimau) dan berbagai produk pertahanan dan keamanan buatan Pindad yang telah digunakan TNI dan siap mendukung alutsista negara Philipina,” ujar Abraham.
Medium Tank Harimau hadir sebagai produk inovatif kendaraan tempur terbaru buatan Pindad yang didukung oleh Kementerian Pertahanan RI sesuai kebutuhan TNI. Dilengkapi dengan senjata utama turret kaliber 105 mm serta senapan mesin kaliber 7,62 mm untuk daya gempur maksimum, Harimau mampu beroperasi untuk berbagai macam kondisi operasi, khususnya tempat tropis dan medan ekstrem karena memiliki bobot yang lebih ringan dari Main Battle Tank. Dilengkapi dengan proteksi STANAG 4569 sampai level 5, sistem pertahanan anti-balistik dan anti-ranjau, Harimau diproyeksikan untuk memperkuat armada kavaleri lapis baja militer.
Adapun berbagai kendaraan tempur lainnya seperti Anoa berbagai varian dan Kendaraan Taktis Komodo buatan Pindad telah terbukti kualitasnya di berbagai medan sulit di berbagai negara lain. Lebih dari 360-unit Anoa telah digunakan oleh TNI serta sebagian kendaraan ikut aktif beroperasi dalam berbagai misi perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), Sudan (UNAMID), Afrika Tengah (MINUSCA), Kongo (MONUSCO). Alutsista yang ditampilkan pada defile meliputi Anoa dan Komodo berbagai varian, Badak, Water Canon dan Medium Tank Harimau. Delegasi Philipina juga mencoba berbagai senjata dan munisi buatan Pindad di lapangan tembak Divisi KK meliputi Senapan dan Pistol berbagai varian.
Industri pertahanan lainnya meliputi PT DI (Persero), PT Len Industri (Persero), PT Pal Indonesia (Persero) dan PT NTP turut menampilkan berbagai produk unggulannya kepada Delegasi Philipina. Kedepannya akan ada lebih banyak potensi kerjasama alutsista yang dilaksanakan oleh industri pertahanan lainnya yang dapat memberikan keuntungan bersama bagi kedua belah pihak. Harapan akan kerjasama atau kemitraan strategis dengan Philipina dapat terjalin semakin baik dan dalam tata pelaksanaannya Pindad akan mengikuti seluruh regulasi dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Diharapkan kerjasama kedepannya khususnya dengan Pindad terjalin lebih baik lagi. Dalam impelementasinya kita mengacu kepada regulasi industri pertahanan, kemudian melakukan strategi bisnis melewati batas negara. Apabila kita melakukan bisnis perdagangan dengan negara lain kita dapat mengadopsi bagaimana kebijakan maupun regulasi di negara mereka, sehingga kerjasama ini dapat value creating profit bagi masing-masing perusahaan. Pindad juga berusaha melakukan tata kelola perusahaan dengan baik, predikat GCG kita skornya sangat baik dan kita mengikuti kebijakan pemegang saham termasuk diantaranya ISO 37001 di seluruh lingkungan kerja,”
Dilain pihak, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo berinisiatif untuk memperkuat personil patroli laut (KKP) Indonesia dengan menambah 200 senjata Senapan Serbu 2 (SS2) buatan PT Pindad (Persero). Men-KKP mengatakan bahwa senjata tersebut diadakan sebagai bekal Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), khususnya awak kapal pengawas dalam bertugas. Menurutnya, dengan diperkuat ini, ia berharap awak kapal akan semakin kuat mental dan berani dalam menghadapi para maling ikan yang mencuri sumber daya laut Indonesia.
“Tahun ini persenjataan di kapal pengawas akan diperbarui dengan pengadaan 200 pucuk senjata jenis SS2 buatan Pindad yang lebih memadai sehingga akan meningkatkan mental dan semangat Anda pada saat operasi di laut,” katanya dalam konferensi pers yang dilihat virtual, Rabu (22/7/2020). Lanjutnya, ia mengatakan saat ini para awak kapal hanya dibekali senjata SS1 yang kualitasnya sulit untuk menembus kapal. “Kalau Anda lihat senjata kita hanya dibekali oleh SS1 yang kualitasnya kalau nembus kapal itu sangat tidak mungkin,” ungkapnya. Karena itu, ia mengaku telah berdiskusi dengan Kementerian Pertahanan untuk melakukan operasi laut dengan Senjata Mesin Berat (SMB) yang membutuhkan kerja sama dengan TNI.
Men-KKP menegaskan bahwa “Sebenarnya KKP mempunyai senjata mesin berat (SMB) yang memang secara aturan dibolehkanakan tetapi perangkatnya, penembaknya harus dari organik artinya dari TNI maupun Polri. Hal inilah yang sedang kami koordinasikan dengan Kementerian Pertahanan maupun Kepolisian-RI, secara prinsip mendukung tinggal pelaksanaan implementasinya, jadi kita harapkan dapat menambah kemampuan,” ungkapnya.
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mencoba langsung kendaraan taktis Maung, serta Senapan Serbu SS2-V4 HB yang digunakan Kontingen TNI Angkatan Darat saat menjuarai lomba menembak antarnegara di ajang Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM) sejak 2008-2019. Keduanya merupakan hasil karya anak bangsa melalui PT Pindad. “Menjadi bukti bahwa produksi Pindad punya kualitas internasional dan disegani dunia. Tak ada alasan bagi Indonesia untuk tak membesarkan PT Pindad,” ujar Bambang Soesatyo saat melakukan kunjungan kerja ke PT Pindad, Bandung, Jumat (7/8/2020). Turut hadir Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad, Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose, Direktur Bisnis Produk Industrial PT Pindad Heri Heriswan, Direktur Bisnis Produk Pertahanan Keamanan PT Pindad Heru Puryanto, dan Direktur Keuangan dan Administrasi PT Pindad Wildan Arief. Mantan Ketua DPR RI mendukung langkah Presiden Joko Widodo yang melarang Kementerian Pertahanan melakukan impor Alutsista yang bisa dipenuhi oleh industri pertahanan dalam negeri. Dalam pagu anggaran tahun 2020, Kementerian Pertahanan mendapatkan alokasi Rp131 triliun.
Pandemi Covid-19 membuat pemerintah melakukan refocusing anggaran. Berdasarkan Perpres 72/2020 sebagai perubahan Perpres 54/2020, anggaran Kementerian Pertahanan dipotong menjadi Rp117 triliun. Sedangkan untuk tahun anggaran 2021, Kementerian Pertahanan sudah meminta alokasi Rp 129,3 triliun. Langkah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang memesan kepada PT Pindad berupa 4 miliar butir peluru dengan anggaran mencapai Rp19 triliun, serta 500-unit kendaraan serbaguna Maung sebesar Rp500 miliar, sudah sangat tepat. Pemesanan tersebut akan menggairahkan pengembangan industri pertahanan nasional, yang paling penting, uang rakyat dimanfaatkan untuk rakyat, bukan dinikmati untuk impor,”.
