Jelang KTT ASEAN, Telkomsel Bersih-bersih Pantai di Labuan Bajo
Adapun jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah sampah plastik, dengan bobot seberat 627,80 gram per meter persegi, atau 35,4 persen dari total sampah di laut Indonesia pada 2020.
CEO dan Founder PlusTik Reza Hasfinanda mengatakan, permasalahan sampah plastik merupakan hal yang sangat mendesak.
“Krisis iklim adalah salah satu dampak dari penggunaan berlebih plastik sekali pakai,” kata Reza.
Pada beach clean up hari pertama di Pantai Waecicu, Reza mengatakan sampah yang berhasil dikumpulkan sebanyak 1,4 ton, di mana sepertiganya adalah plastik.
Adapun jenis plastik yang paling banyak ditemukan adalah low value plastic seperti sachet, pouch, dan kemasan snack. Padahal, plastik yang biasa didaur ulang adalah high value plastic seperti kemasan air mineral.
“Nah, di PlusTik kami memiliki teknologi yang mengolah low value plastic tersebut menjadi produk akhir guna ulang seperti paving block hingga perahu,” ujar Reza,
Kegiatan pembersihan sampah, khususnya sampah berbahan plastik, pada tiga pantai tersebut juga melibatkan sejumlah komunitas pemuda lokal yang berada di Kawasan Labuan Bajo, seperti mahasiswa Politeknik eLBajo Commodus, Komunitas Komodo Sea Cleaners, dan Komunitas Plastic Man.
Sampah yang berhasil dikumpulkan nantinya akan dipilah kembali dan diupayakan dapat didaur ulang oleh PlusTik menjadi barang yang bermanfaat.
Selain kegiatan pembersihan pantai, Telkomsel juga mendukung PlusTik untuk memproduksi 1.000 mobile phone holder yang terbuat dari 100 persen dari material plastik daur ulang, yang akan dibagikan sebagai cinderamata bagi para tamu, peserta delegasi, dan panitia KTT ASEAN 2023.
