Menperin: Forum TIIWG Pertama Dalam Sejarah G20
BUMNINC.COM I Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pertemuan atau forum negara-negara anggota G20 dalam Trade, Investment, and Industry Working Group (TIIWG) di Solo, Jawa Tengah, merupakan pertama menjadi sejarah kelompok G20.
“Pada forum pertemuan tersebut Indonesia memegang Presidensi G20 2022 dan salah satu agenda penting pertemuan TIIWG,” kata Menperin Agus Gumiwang saat menghadiri Pertemuan TIIWG G20 yang digelar di Solo, Jawa Tengah, Kamis.
Agus Gumiwang saat menghadiri pertemuan TIIWG G20 didampingi Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka. Pada pertemuan TIIWG 2022 di Solo dihadiri oleh 41 delegasi negara dari anggota G20 serta perwakilan organisasi internasional seperti WTO dan UNCTAD.
Selain itu Menperin Agus Gumiwang bersama Gibran Rakabuming Raka mengunjungi dan melihat puluhan booth furniture dari berbagai daerah di jawa Tengah, yang digelar khusus untuk para delegasi G20, di Hotel Alila Solo.
Agus Gumiwang menyampaikan industry working group tersebut adalah pertama dalam sejarah G20, dimana G20 sebelumnya belum pernah mengagendakan secara khusus pembahasan mengenai industri.
Hal tersebut Menperin mengharapkan dengan suksesnya, baik sukses substansi maupun pelaksanaan dari first industrial working group yang dilaksanakan di Solo dalam dua hari ini ke depan, akan dilanjutkan oleh negara-negara berikutnya yang memegang Presidensi G20.
Menperin mengatakan untuk isu industri terus menjadi pembahasan khusus dan di sela-sela pelaksanaan G20 ini.
“Saya dengan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka mengunjungi pameran furnitur, di mana sebetulnya yang kami ingin sampaikan, ini bukan pameran terbuka untuk umum, tapi diperuntukkan, dihadiri, dan dilihat oleh para peserta G20 saja,” kata Menperin.
“Kami juga ingin menyampaikan pesan ke dunia bahwa industri furnitur di Indonesia sudah sustainable, tidak ada lagi industri di Indonesia yang bahan bakunya ilegal. Sampai bahan baku kayu itu, sendiri semua bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Sehingga, semua tersebut bisa dibilang produk berbasis industri hijau dan sustainable. “Jadi ini sebetulnya niat tujuan dari kami bersama Pemerintah Kota Solo untuk bisa menyampaikan pesan kepada dunia bahwa industri furnitur sudah sustainable,” katanya.

