Optimisme BUMN Menghadapai Tahun Resesi
BUMNINC.COM I Kementrian BUMN baru saja menyelenggarakan perhelatan International Conference of SOEs di Bali pada 17-18 Oktober 2022 dengan tema Driving Sustainable and Inclusive Growth. Optimisme berkembang bahwa BUMN Indonesia akan mampu terus bertumbuh meskipun kondisi ekonomi ke depan dibayangi jurang resesi cukup dalam.
Menteri BUMN Erick Thohir menunjukkan data pertumbuhan kinerja BUMN tahun 2021 yang bergeliat makin baik dibandingkan kondisi 2020. Pendapatan BUMN selama 2021 naik 18,8% dari 2020 menjadi Rp 2.295 triliun atau sekitar US$ 160 miliar.
Tak hanya itu, keuntungan konsolidasi BUMN juga melonjak 838% dari Rp 13 triliun (US$ 892 juta) pada 2020 menjadi Rp 124,7 triliun (US$ 9 miliar) pada 2021. Total aset BUMN juga meningkat menjadi Rp 8.978 triliun (US$ 630 miliar) pada akhir 2021 atau setara 53% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Perbaikan kinerja BUMN ini disebutkan sebagai buah dari transformasi yang dijalankan sejak 2019. Seperti diketahui beberapa Langkah transformasi yang dilakukan termasuk percepatan implementasi pembentukan beberapa holding company baru di BUMN, langkah merger BUMN, serta upaya likuidasi beberapa BUMN. Langkah ini dilengkapi dengan penguatan system terkait pengelolaan manajemen risiko dan juga upaya konsolidasi laporan keuangan seluruh BUMN. Hal ini dimaksudkan sebagai penguatan daya saing dan penguatan proses monitoring kinerja BUMN.
Meskipun sudah terdapat perbaikan kinerja BUMN, perlu dicatat bahwa beberapa masalah lainnya masih muncul dan memerlukan penanganan lebih baik. Masalah terkait makin menumpuknya utang BUMN adalah permasalahan yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Utang konsolidasi BUMN pada 2021 telah mencapai 1500 triliun. Beberapa perusahaan plat merah dengan hutang besar itu antara lain PLN ( 643 T), Pertamina (237 T), Garuda (184 T), BUMN Karya (WSKt/ADHI/WIKA total 170 T ), PTPN (43 T) , serta Angkasa Pura 1 (35 T).
Permasalahan hutang ini tidak terlepas dari kinerja buruk BUMN sebagai dampak Covid-19. Serta, beberapa proyek penugasan pemerintah kepada BUMN yang membutuhkan biaya besar. Hal yang perlu dikritisi adalah kegagalan proyek jumbo PLN yang didanai hutang seperti proyek pembangunan blast furnace di KRAS. Proyek semacam ini membutuhkan investigasi khusus untuk mencari akar penyebab masalah dan kerugian yang ditimbulkan.

