Optimisme BUMN Menghadapai Tahun Resesi
Sementara terkait proyek penugasan pemerintah, misalnya pembangunan infrastruktur atau subsidi dan kompensasi energi, seharusnya bisa segera ditutup oleh negara sehingga tidak membebani cashflow perusahaan plat merah tersebut. Sayangnya proses pelunasan sering berjalan lama. Kita gembira mendengar kementrian keuangan akan membayar kewajiban subsidi pada Pertamina dan PLN sebesar Rp 164 T pada tahun ini.
Hal lain yang patut diwaspadai adalah kondisi resesi ekonomi global yang sudah terjadi dan punya dampak negatif pada korporasi termasuk BUMN. Kondisi resesi ini terjadi sebagai dampak melemahnya ekonomi di AS, China, dan Eropa yang menyebabkan menurunnya sisi demand dan kenaikan inflasi, serta melemahnya nilai tukar Rupiah. Harga komoditas yang meroket di dua tahun terakhir bisa terdampak akibat mulai melemahnya permintaan di tahun depan. Demikian pula perusahaan negara yang mengandalkan impor bahan baku dan penjualan dominan di domestik akan terancam dengan fluktuasi nilai tukar. Maka upaya minimalisir resiko misalnya dengan proses hedging sangat penting dilakukan.
Kita masih optimis bahwa Indonesia akan masuk sebagian kecil negara yang tetap bisa tumbuh di tengah kemuraman ekonomi dunia ke depan. Pertumbuhan ekonomi masih optimis bisa dicapai pada kisaran 5 persen di 2023. Kesempatan ini sepatutnya bisa dimanfaatkan BUMN untuk terus berbenah dan meningkatkan daya saing supaya mampu bersaing di pasar global.
Optimisme yang terbentuk pada business matching di sela acara konferensi international SOEs di Bali harus dapat dikapitalisir dengan cepat. Demikian pula kesempatan bisnis besar lainnya seperti proyek pembangunan IKN bisa dimanfaatkan BUMN dengan kolaborasi bersama para mitra. Dengan langkah cepat dan agility yang optimal diharapkan perusahaan negara bisa segera bangkit sebagai salah satu lokomotif ekonomi garda depan.
Toto Pranoto – Dewan Pakar BUMN INC
