Pakar Ungkap Tantangan Humas di Era Kecerdasan Buatan
Kendati AI seakan mengambilalih banyak pekerjaan, termasuk kehumasan, Direktur Eksekutif Indonesia Blockchain and Metaverse Center, Tuhu Nugraha mengatakan hal itu tidak berarti humas tidak mempunyai nilai dibanding AI, karena manusia punya kreativitas.
“AI hanya akan menggantikan keterampilan kognitif, tetapi tidak dapat menggantikan kita dalam hal emosi, imajinasi, kreativitas, pemecahan masalah, dan menemukan cara baru untuk melakukan dan menciptakan sesuatu. AI hanya dapat memproses dan mengolah data historis,” ucapnya.
Hal senada dikemukakan Director Maverick Indonesia Felicia Nugroho bahwa penggunaan Al generatif untuk penelitian dan pengukuran PR tidak bisa jadi 100 persen acuan. “Kita harus menggunakan data untuk keputusan strategis. Ini adalah sesuatu yang perlu diingat bahwa Al generatif hanya menyajikan sebagian, tidak semua, dari data yang diperlukan untuk mengukur dampak PR. Ada bagian lain dari PR, yang merupakan inti dari PR, yaitu hubungan antar- manusia,” ujarnya.
Senior Vice President Community & Esports Global at UniPin, Debora Imanuella menilai PR sangat penting dalam esports untuk mengelola reputasi, membangun awareness, membina hubungan sesama, menavigasi krisis, dan mendorong pertumbuhan industri. “Strategi PR yang efektif berkontribusi pada kesuksesan jangka panjang dan keberlanjutan organisasi esports, tim, pemain, dan industri secara keseluruhan,” katanya.
Sementara itu, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji dalam pidatonya di seminar itu menyampaikan AI secara umum dianggap positif di Jepang. “Jepang memiliki aptitude yang relatif tinggi mengenai AI, termasuk AI generatif. Saya yakin kemunculan AI generatif dapat meningkatkan kualitas hidup Jepang dalam arti yang lebih luas,” katanya.

