Pengamat BUMN: Ke Depan Pemerintah Harus Kurangi Jumlah BUMN
Kendati demikian, menurut Toto, banyak BUMN yang sebelum pandemi Covid-19 melanda sudah memiliki rapot buruk atau kinerja keuangannya tidak sehat dan terus merugi.
“Nah perusahaan BUMN yang seperti itu di mana produk dan jasanya sudah tidak strategis, sudah bisa digantikan operator bisnis lain, dan situasi keuangan sudah tidak cukup baik dan merugi, bisa dilakukan likuidasi,” ujar Toto.
Sedangkan, BUMN yang harus dipertahankan yakni kelompok-kelompok yang produk dan jasanya masih strategis, masih dibutuhkan publik, dan situasi keuangannya relatif semakin baik.
“Jadi BUMN ke depan lebih sedikit tapi lebih punya daya saing dan juga punya kemampuan untuk mengeluarkan sisi komersial dengan lebih baik meskipun tetap dalam proses karena BUMN harus juga menjaga kegiatan soal public service obligation bisa berjalan,” ujar Toto.
