Penghujung Tahun 2020 Produksi Tembaga dan Nikel Capai Target
BUMNINC.Com | Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Yunus Saefulhak mengungkapkan, ada tujuh produk mineral yang tercatat oleh Ditjen Mineral dan Batubara (Minerba). Hingga November 2020, realisasi produksi katoda tembaga mencapai 266.900-ton atau 91,7% dari target yang sebesar 291.000-ton.
Lalu untuk produk nikel seluruhnya sudah melampaui target. Produksi FeroNikel sudah mencapai 1,32 juta ton atau 101,9% dari target. Sedangkan produksi Nickel Pig Iron (NPI) mencapai 797.900-ton setara 127% dari target, dan produksi nikel matte sebanyak 85.200-ton atau 118,8% dari target.
Cukup mengherankan, komoditas mineral yang produksinya masih jauh dari target adalah timah. Hingga November realisasi produksinya masih 49.300-ton atau baru 70,5% dari rencana produksi 70.000 ton di 2020.
Menurut Yunus, tingkat produksi komoditas mineral juga tergantung pada pergerakan harga.
“Produksi menurun karena kemarin harga timah agak sedikit tertekan. Oleh karena itu PT Timah yang memproduksi terbesar, menurunkan produksinya, saya kira hal yang wajar,” kata Yunus dalam acara webinar bertajuk ‘Indonesia Mining Outlook 2021’, Rabu (16/12/2020).
Menilik ekspor timah hingga November 2020 sebesar 59.900 ton (81,3%), ekspor nikel matter 79.100 ton (108,8%), ekspor NPI 275.400 ton (80,4%), sedangkan ekspor Feronikel sebesar 1,13 juta ton atau 65,9% dari rencana.
Ia memaparkan, akan masih rendahnya ekspor feronikel yang tak lepas dari mundurnya jadwal operasional smelter PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di Halmahera Timur. Smelter tersebut tak kunjung beroperasi lantaran terkendala belum adanya pasokan listrik.
“Baik semua (ekspor) kecuali Feronikel. Kenapa? karena direncanakan di Halmahera Timur punya Antam harusnya jadi smelter, tapi tidak jadi. Karena supply listriknya, jadi perlu link and match antara industri smelter dan supply power,” sebut Yunus.
Sedangkan untuk penjualan di dalam negeri tercatat hanya ada enam komoditas mineral. Untuk katoda tembaga, penjualan domestik hanya 55.400-ton atau baru 57,8% dari target.
Rendahnya serapan katoda tembaga di dalam negeri tak lepas dari sebagian industri kabel yang masih melakukan impor.
Yunus menjelaskan bahwa semestinya ada kebijakan khusus dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan untuk memberikan insentif, supaya impor berkurang dan penyerapan katoda tembaga di dalam negeri meningkat. []


