Prospek dan Tantangan Indonesia Battery Corporation
Baterai merupakan komponen kunci untuk kendaraan listrik. Mobil listrik menggunakan baterai lithium ion dengan lithium nikel, kobalt, mangan dan alumunium digunakan sebagai bahan baku material katoda serta grafit sebagai material anodanya. Baterai listrik ini berkontribusi sekitar 35-40% dari harga mobil listrik pada saat ini. Komponen biaya terbesar untuk pembuatan baterai mobil listrik adalah biaya materialnya yang mencapai kurang lebih 60% dari total biaya pembuatan baterai. Karenanya posisi Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia menjadi sangat strategis.
BUMN produsen baterai listrik yang baru didirikan diharapkan dapat beroperasi dalam keseluruhan ekosistem industri. Rantai nilai yang akan di-cover mulai dari nickel processing, precursor materials, cathodes, battery cells and packs, energy storage systems sampai dengan recycling. Perusahaan ini akan bekerjasama dengan global player yang sudah eksis di industry ini seperti Contemporary Amperex Technology (CATL) dari China dan LG Petrochem. Sudah ada komitmen investasi dari CATL sebesar $ 5.2 miliar dan LG Petrochem sebesar $ 9.8 miliar Diharapkan pembagunan pabrik EV ini akan selesai di 2025.
Seberapa jauh kredibilitas calon mitra bisnis? Contemporary Amperex Technology (CATL) adalah produsen terbesar baterai listrik di dunia untuk EV. Kapasitas perusahaan mampu berproduksi sampai dengan 336 gigawatt pada 2023. Hal ini bisa dicapai setelah perluasan pabrik dengan investasi senilai $4.49 milyar di 2020. Perusahaan ini juga baru saja menginvestasikan $270 juta untuk pembangunan pabrik mereka di Erfuhrt Jerman bagian timur dan dukungan dana dari BMW senilai empat miliar Euro.
CATL telah diminta para produsen otomotif Eropa seperti BMW, Mercedez, Audi untuk membangun fasilitas pabrik bateri listrik disana dalam rangka menurunkan biaya produksi. Demikian pula LG Petrochem adalah pemain terbesar nomor dua di dunia untuk baterai listrik.


