PROSPEK IPO BUMN
Apakah BUMN Tbk menjamin perusahaan plat merah ini selalu berkinerja positif? Dalam beberapa kasus tentu tidak selalu begitu. GIAA misalnya sejak dua tahun sebelum krisis pandemi Covid19 terjadi sudah dihadapkan pada kesulitan keuangan. Ditambah dengan era pembatasan beraktivitas (PSBB) maka kinerja maskapai nasional ini semakin berantakan. Krakatau Steel (KRAS) juga kira-kira dihadapkan pada situasi serupa. Pelanggaran terhadap prinsip good governance mungkin menjadi salah satu sebab kenapa kinerja BUMN Tbk ini jadi terperosok.
Demikian pula nasib Waskita Karya (WSKT) yang dihadapkan pada hutang yang menggunung pada akhir 2020 ini. Apa sebab? Disamping program ekspansi bisnis yang mereka lakukan, maka penyebabnya juga karena penugasan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur yang massif dikerjakan dalam 5 tahun terakhir. Karena penyertaan modal negara (PMN) relatif terbatas maka otomatis perusahaan ini dan tiga BUMN Karya lainnya yang mendapat penugasan serupa melakukan external financing dengan penerbitan global bond serta penerbitan hutang obligasi domestik.
Lihat juga: Tata Kelola Indonesia Investment Authority (INA): Belajar dari Skandal 1 MDB
Situasi pandemi Covid19 tidak bisa dihindarkan lagi menjadi salah satu penyebab terbesar kehancuran dunia usaha termasuk BUMN. Pemerintah sudah berupaya untuk tetap menghidupkan aktivitas ekonomi dengan memberikan berbagai kebijakan insentif fiskal dan suntikan dana. Program PEN 2020/2021 telah memberikan rencana suntikan dana maupun pinjaman modal kerja buat BUMN. Pada tahun anggaran 2020 telah direncanakan suntikan dana Rp 53,4 triliun kepada beberapa BUMN diluar percepatan pembayaran subsidi kepada PLN dan Pertamina hampir mendekati Rp 50 triliun.
