Quo Vadis Garuda Indonesia
BUMNINC.COM I Perbincangan tentang nasib Garuda Indonesia (GIAA) mendominasi ruang publik beberapa waktu belakangan ini. Gagasan pemerintah untuk membuka opsi melikuidasi Garuda apabila proses restrukturisasi mengalami jalan buntu ramai didiskusikan. Bahkan maskapai pengganti seperti Pelita Air Service sudah digaungkan sebagai pengganti Garuda.
Beberapa pihak yang kontra dengan pandangan ini melihat bagaimana secara historis Garuda membawa nama Indonesia bahkan sejak awal era kemerdekaan sehingga patut diselamatkan. Upaya restrukturisasi sampai tuntas harus dilaksanakan terlebih dulu sebelum opsi likuidasi ditempuh.
Kesulitan keuangan yang dialami GIAA sebetulnya terjadi sejak beberapa tahun terakhir sejak sebelum COVID-19 meledak di akhir 2019. Pemicu utama adalah tingginya struktur biaya perusahaan terutama terkait biaya leasing pesawat. Nilai sewa pesawat GIAA dianggap yang paling mahal dibandingkan harga sewa normal di industri.
Sementara di sisi pengelolaan rute pesawat terutama di rute internasional mengalami kerugian karena rute long distance memiliki load factor yang rendah. Misal rute Jakarta-London atau Jakarta-Amsterdam. Sementara rute Asia Timur yang padat dengan potensi turis terkadang malah kekurangan armada.
