Teuku Wisnu Artis Sinetron Jadi CMO Garis Sepuluh, Produksi Animasi Edukatif
Siapa pun sepakat bahwa banyak konten tidak mendidik berseliweran di dunia internet. Kenyataan tersebut, membuat ‘Garis Sepuluh’ hadir sebagai perusahaan konten kreatif yang menyuguhkan tayangan-tayangan positif.
“Poinnya ke sisi bagaimana anak-anak menonton tayangan tidak baik yang banyak mempengaruhi anak-anak,” ucap Teuku Wisnu, dalam wawancaranya di kanal youtube resmi Bumninc, yang diunggah pada Sabtu (2/1/2021).
Anak memang menjadi kelompok usia yang sangat rentan terdampak konten negatif. Untuk itu, harinya perusahaan ini salah satu tujuannya menjadi mitra bagi orang tua, serta tayangan yang menyenangkan bagi anak.
Produk pertamanya berupa animasi berjudul ‘Riko The Series’ yang merupakan intelektual properti (IT). Sederhananya, konten kreatif berupa IT ini mirip seperti Disney Pictures. “Kan mereka punya Meickey Mouse, atau Goofy dan lainnya buat benchmark,” kata mantan artis sinetron sekaligus CMO perusahaan Garis Sepuluh ini.
Riko The Series menjadi benchmark milik perusahaan Garis Sepuluh, yang tayang di kanal Youtube. Karakter anak dengan teman robotnya yang dalam kesehariannya bermain dengan hal-hal ilmiah dan agama.
Menurut Teuku Wisnu, animasi ini dikerjakan tidak dengan niatan yang setengah-setengah. Karena, konten positif kerap diremehkan, dianggap tidak menarik dan membosankan. Untuk itu, Garis Sepuluh membuat tayangan edukatif dengan biaya yang tidak sedikit dan pengerjaan total.
Misalnya, dalam pengerjaanya konsultasi ia melakukan konsultasi dengan para profesor dari Institute Teknologi Bandung (ITB), juga ustadz sebagai sharing ilmu agama. “Kita kan orang awam. Apa lagi saya dari artis sinetron,” katanya.
Hal ini dipercayainya sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Jika konten positif kerap diremehkan karena dianggap tidak menarik. Maka, dibuatnya animasi yang positif kemasan yang tidak membosankan merupakan tawarannya.
Untuk itu, beberapa hal dirumuskan dalam proses kerja sama pembuatan Garis Sepuluh. Setidaknya, Teuku Wisnu merumuskan tiga tahap dalam penciptaan ide perusahaannya tersebut. Menurutnya, pertama yang dilakukan adalah membaca pesmasalahan. Permasalahan apa yang ada di lingkungan sekitar.
Pembacaan yang berlangsung mengarah pada problem konten. “Kalau untuk sisi bisnis selalu ada peluang untuk apa yang kita lakukan. Kita juga punya anak. Kita ga bisa melarang anak kita main youtube. Sekalipun dilarang ya mereka bakal tetep bisa akses,” katanya.
Kedua, adalah validasi. Sekiranya apa saja solusi yang sudah diciptakan oleh orang lain. Namun, dimana sisi kekurangannya. Selain itu, melakukan sharing dengan para orang tua, maupun dialog dengan para ahli.
Sepengalamannya, ia menjumpai bagaimana membahasakan sesuatu yang ilmiah untuk anak. Serta beberapa saran dari orang tua, menjadi pertimbangan.
“Misalnya Riko, karakternya kan ngomong sama orang tuanya pakai kata ‘aku’. Di Jakarta aku itu relatif baik, atau di pulau Jawa. Tapi di Sumatera ‘aku’ itu kasar. Di Aceh, ngomong aku ke orang tua aku itu kasar. Bang aku sampai ga kasih nonton anakku. Karena ga mau mereka ngomong ke orang tuanya ‘aku’ juga,” kisahnya.
Terakhir, adalah test market. Ia menyederhanakan bahwa, tidak perlu sulit cukup suguhkan pada anak jika mereka menontonnya hingga selesai, itu cukup.
Perusahaan ini, berdiri pada akhir November 2019. Namun baru dilaunching pada bulan Februari 2020. Dihadiri Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta serta Sandiaga Uno yang kini sudah menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta sederet nama artis ikut terlibat dan meramaikan kegiatan launching tersebut.
Bersamaan dengan launching, sekaligus dibarengi dengan audisi pencarian dubber suara untuk Riko. “Undangan audisi jangkanya seminggu. Alhamdulillah yang hadir, lebih dari 400 alhamdulillah. Total dengan peserta yang dateng hampir ribuan,” ucapnya, bersyukur.
Dalam poses pengerjaan untu satu episode untuk animasi ini bisa menghabiskan waktu 3 bulan denganhasil akhir lima sampai tujuh menit. Dengan keterlibatan 50 orang dalam satu produksi.
Sejauh ini, sudah ada beberapa stasiun televisi yang tertarik untuk kerja sama. Salah satunya Transtv dan Rtv. Sementara sponshorsip makin banyak yang melirik mulai dari Bank syariah, BNPB, Batan, hingga rencanannya, perusahaan asing akan ikut bergabung. []

