Sejarah Lahirnya Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Atasan Wirjaatmadja, Asisten Residen E. Sieburgh, saat itu juga sangat percaya kepada Wirjaatmadja.
Wirjaatmadja, sejak April 1894, diberikan amanah untuk mengelola kas masjid kota Purwokerto sebesar 4.000 gulden. Uang kas masjid itu lalu dijihadkannya untuk menolong pegawai rendahan yang membutuhkan. Setelah para pegawai itu, yang ditolong adalah adalah para petani.
Langkah Wiriaatmadja semakin maju pada tahun berikutnya. Pada 16 Desember 1895, dengan dipelopori R. Wiriaatmadja; R. Atma Soepradja; R. Atma Soebrata dan R. Djaja Soemitra, berdirilah bank simpan-pinjam De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden.
Bank untuk pemuka Bumiputra itu bergerak dinamis. Dari pemuka Bumiputra, bank ini berusaha menyentuh ke lapisan lebih bawah lagi. Pada 1897, namanya berganti menjadi Poerwokertosche Hulp en Spaar Landbouw Credietbank. Dari namanya bank ini disasar ke kaum tani.
Bank ini lalu dikenal sebagai Volksbank (Bank Rakyat) dan kadang disebut sebagai bank desa. Mendiang Presiden Soeharto pernah bekerja di bank desa waktu muda. Berdasar Staatsblad No. 82 tahun 1934, bank ini menjadi bank umum kredit rakyat alias Algemene Volkscrediet Bank (AVB) sejak 19 Februari 1934.
Di zaman pendudukan Jepang, AVB diubah menjadi Syomin Ginko. Setelah Indonesia merdeka, namanya berganti menjadi Bank Rakjat Indonesia (BRI), yang menjadi bank milik negara hingga hari ini.
Ketika Belanda menyerbu Jawa Tengah setelah 1947, bank ini sempat tak bisa dioperasikan orang-orang pendukung Republik Indonesia. Setelah tentara belanda pergi, bank ini aktif kembali.
Tahun 1950, bank ini sempat dinamai Bank Rakjat Indonesia Serikat (BARRIS). Di zaman kepresidenan Sukarno, bank ini mengalami beberapa peleburan. Sejak 1968, bank ini kembali menjadi Bank Rakjat Indonesia, yang setelah ada Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) menjadi Bank Rakyat Indonesia.
