Setahun Danantara: Antara Konsolidasi Aset, Disiplin Kinerja, dan Ujian Restrukturisasi
Dari sisi disiplin modal, ekspektasi bahwa BUMN “akan selalu diselamatkan” akan menurunkan disiplin modal. Danantara dituntut menciptakan hard budget discipline tanpa mengorbankan stabilitas layanan publik.
Berbagai hambatan ini menjadi pekerjaan rumah Danantara yang perlu segera diselesaikan agar kinerja BUMN ke depan dapat lebih baik.
Dari segi kinerja, kita dapat membandingkan Danantara dengan peer di lingkup regional, misalnya Temasek dan Khazanah Nasional. Temasek selama bertahun-tahun menempatkan diri sebagai investor komersial dengan disiplin imbal hasil jangka panjang. Fokus mereka pada portfolio rebalancing, eksposur global, dan penguatan tata kelola berbasis dewan. Temasek mengelola aset layaknya fund manager institusional, bukan sekadar pemilik saham negara.
Kinerja tahun buku Temasek yang berakhir pada 31 Maret 2025 menunjukkan angka yang signifikan. Misalnya, net portfolio value mencapai S$434 miliar, kemudian one-year TSR berada pada kisaran 11–12 persen, sementara ten-year TSR sekitar 5 persen. Model pengukuran berbasis nilai portofolio dan imbal hasil, bukan pendapatan operasional. Temasek menempatkan imbal hasil jangka panjang sebagai KPI utama, bukan sekadar dividen tahunan.
Sementara itu, Khazanah lebih menekankan developmental asset strategy, yakni mengembangkan kawasan dan industri jangka panjang dengan horizon 20–40 tahun, lalu melakukan monetisasi ketika sudah matang. Model Khazanah ini relatif mirip dengan Danantara dalam konteks pengelolaan BUMN yang tidak semata berorientasi komersial, tetapi juga memiliki fungsi pemanfaatan aset strategis untuk mempercepat pembangunan nasional.
