Setahun Danantara: Antara Konsolidasi Aset, Disiplin Kinerja, dan Ujian Restrukturisasi
Setahun tentu belum cukup untuk menilai keberhasilan struktural Danantara. Namun demikian, terdapat beberapa indikator awal yang positif, misalnya konsolidasi dividen berjalan, struktur kepemilikan lebih terpusat, dan kerangka tata kelola mulai terbentuk.
Meski demikian, masih terdapat beberapa indikator yang belum teruji karena masih dalam proses, misalnya restrukturisasi mendalam pada BUMN bermasalah, eksekusi asset recycling, dan proyek strategis baru.
Laba bersih konsolidasi BUMN pada 2024 mencapai Rp304 triliun. Kita belum mengetahui angka pasti realisasi laba 2025 karena laporannya belum terbit. Namun, jika target laba DAM pada 2026 sekitar Rp360 triliun, maka kenaikan secara absolut masih belum cukup signifikan. Artinya, Danantara kemungkinan menyadari bahwa seluruh mesin BUMN belum bekerja optimal; sebagian masih dalam proses penyehatan dan restrukturisasi, sehingga target 2026 dipatok relatif moderat.
Sumber kontributor utama masih bertumpu pada BUMN blue chip (Himbara, Pertamina, MIND ID, TLKM, SIG, dan PLN). Sektor lainnya belum diproyeksikan berkontribusi secara signifikan.
Ke depan, poin penting yang perlu dikerjakan Danantara adalah mempercepat proses eksekusi berbagai aksi korporasi. Perlu diingat, Danantara juga telah menghimpun tambahan modal melalui penerbitan patriot bond dan pinjaman bank sindikasi internasional. Apabila dana tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal, hal itu berpotensi menjadi beban utang yang kurang produktif.
Poin lainnya adalah kebutuhan komunikasi yang lebih transparan kepada publik terkait rencana aksi korporasi dan laporan kinerja Danantara. Transparansi ini akan memudahkan Danantara memperoleh kepercayaan publik.
Toto Pranoto, Dewan Pakar BUMNINC. COM I
