Streamlining BUMN: Ketika Melepas Justru Memperkuat
Praktik internasional menegaskan pola ini. Temasek di Singapura menjalankan kepemilikan aktif berbasis portofolio, di mana entitas dapat direstrukturisasi, dilepas, atau dikonsolidasi sesuai kinerja. Evaluasi berkelanjutan ini dipandang sebagai praktik normal, bukan tanda kegagalan. Khazanah di Malaysia menjalankan rasionalisasi GLC secara periodik. SASAC di Tiongkok mengendalikan konsolidasi dan pemisahan BUMN strategis dengan mandat sektor yang eksplisit. Benang merahnya adalah struktur portofolio dievaluasi secara berkala, sementara mandat publik dijaga tetap eksplisit melalui regulasi, terlepas dari perubahan bentuk korporasi.
Maka, ketika Indonesia kini bergerak dari holdingisasi menuju penyesuaian struktur yang lebih cair, ini bukan pembalikan arah yang memalukan. Ini adalah pendewasaan tata kelola. Evaluasi struktur holding merupakan praktik normal dalam siklus penataan portofolio negara, bukan indikasi kegagalan entitas tertentu.
## Bukan Wacana: Streamlining Sudah Berjalan Kencang
Yang membedakan gelombang kali ini dari retorika reformasi masa lalu adalah bahwa ia sudah berjalan, bukan sekadar diwacanakan. Sejak Danantara beroperasi pada Februari 2025 dan diperkuat Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2026 tentang percepatan penataan BUMN dan anak usaha, sejumlah holding besar telah membongkar dan merampingkan strukturnya.
Pertamina adalah contoh paling terang. Raksasa energi ini menjalankan penataan dengan target memangkas anak usaha dari sekitar 257 menjadi 153 entitas. Pada semester I 2026 saja, telah dirampungkan penataan 31 entitas melalui merger, divestasi bisnis noninti, dan likuidasi entitas dormant, terutama di sektor hulu migas. Penggabungan subholding Pertamina bahkan disebut menghasilkan efisiensi sekitar US$600–700 juta.
Contoh lain tak kalah masif. Pupuk Indonesia menyederhanakan puluhan entitas bisnis menjadi sekitar 15 perusahaan. Telkom memangkas puluhan anak usaha untuk mempertajam fokus bisnis digitalnya. IFG, holding asuransi dan penjaminan, merampingkan ekosistemnya menjadi belasan entitas inti. Garuda Group mengintegrasikan Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air di bawah satu induk maskapai. BUMN Karya dilebur menjadi tiga perusahaan besar, sementara puluhan perusahaan logistik dikonsolidasikan di bawah satu payung. Secara agregat, BP BUMN mencatat ratusan BUMN telah ditata dalam kerangka transformasi ini, dari sekitar 1.077 entitas menuju target sekitar 250 entitas operasional utama.
Angka-angka ini menunjukkan satu hal: streamlining bukan lagi wacana akademis, melainkan realitas operasional yang sedang mengubah wajah perusahaan negara dalam skala yang belum pernah terjadi.
