Streamlining BUMN: Ketika Melepas Justru Memperkuat
## Kasus Farmasi: Ketika Induk Justru Terbebani Anak
Sektor farmasi menawarkan studi kasus yang instruktif tentang mengapa deholdingisasi kadang menjadi pilihan rasional. Pada 2020, Holding BUMN Farmasi dibentuk dengan Bio Farma sebagai induk, mengintegrasikan Kimia Farma dan Indofarma demi sinergi hulu-hilir. Logikanya waktu itu masuk akal: menyatukan produsen vaksin, manufaktur obat, dan jaringan ritel dalam satu ekosistem.
Namun, kenyataan berkata lain. Kasus fraud dan gagal bayar utang di Indofarma serta tekanan efisiensi di Kimia Farma justru menekan profitabilitas konsolidasi Bio Farma sebagai induk. Alih-alih anak usaha menopang induk, beban keuangan anak justru menyeret kinerja induk melalui konsolidasi laporan keuangan. Di sinilah muncul wacana membalik integrasi 2020—melepas Kimia Farma dari Bio Farma agar berada langsung di bawah kendali Danantara.
Logika strategisnya jernih. Bagi Bio Farma, pelepasan ini memutus efek domino keuangan dari anak usaha yang bermasalah, sekaligus mengamankan kas internal untuk riset dan pengembangan vaksin, termasuk platform mRNA dan rekombinan yang menjadi masa depan bioteknologi. Bagi Kimia Farma, kemandirian berarti jalur komando lebih pendek dan fokus penuh pada farmasi ritel serta obat generik. Perlu dicatat, penentuan bentuk akhir masih memerlukan kajian kelayakan formal dan belum ada keputusan final publik saat tulisan ini disusun. Namun, arah dan logikanya menggambarkan prinsip universal: ketika induk tak lagi menambah nilai pada anak—atau sebaliknya, anak membebani induk—pemisahan bisa menjadi penyelamatan bagi keduanya.
Menariknya, Kimia Farma tak menunggu keputusan struktur untuk berbenah. Perusahaan itu telah lebih dulu merasionalisasi 181 lini produk yang tidak produktif, selaras dengan pola yang saya amati di banyak holding BUMN: streamlining lebih dulu, keputusan struktur menyusul.
## Titik Kritis: Keunggulan yang Nyata, Risiko yang Mengintai
Sampai di sini, narasi deholdingisasi terdengar hampir seluruhnya positif. Namun, tugas pemerhati kebijakan adalah menjaga keseimbangan. Kebijakan ini menyimpan keunggulan nyata sekaligus risiko yang tak boleh diremehkan.
