Tantangan dan Masa Depan Telkom di Era 5G
BUMNINC.COM I Kabar mengejutkan datang di pertengahan Desember 2020. Operator telekomunikasi terbesar nomor tiga di Indonesia, Indosat milik perusahaan Qatar Ooredo membuat kesepakatan awal untuk merger dengan operator telko lainnya yaitu kelompok 3 milik CK Hutchinson Hongkong.
Pada 2018 Indosat Ooredo tercatat memegang market share telekomunikasi sekitar 13% di pasar Indonesia. Sementara Hutchinson 3 Indonesia penguasa pasar nomor empat di Indonesia dengan sekitar 7% market share. Apabila kesepakatan merger ini bisa direalisasikan maka perusahaan hasil merger ini akan menjadi kekuatan nomor dua bisnis telko di Indonesia.
Indosat sendiri dimiliki oleh Ooredo yang memegang saham 65%, sementara pemegang saham lainnya adalah Pemerintah Indonesia sebesar 14%, serta sisanya dimiliki publik.
Pasar mobile network semakin berkembang dalam era Covid-19. Salah satunya dengan kebijakan WFH dan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan secara daring (online). Skenario ke depan apabila situasi recovery ekonomi bisa terwujud lebih cepat maka estimasi kebutuhan data akan tetap tinggi sehingga investasi infrastruktur di telekomunikasi juga akan meningkat .
Keputusan merger ini dianggap tepat dalam rangka efisiensi apalagi Indonesia juga sudah memutuskan untuk segera beralih pada jaringan 5 G. Hadirnya 5G bertujuan untuk memberikan kecepatan data sebesar 10 hingga 100 kali lebih cepat dari jaringan 4G yang ada saat ini. Untuk mencapai kecepatan ini, peluncuran 5G membutuhkan teknologi dan infrastruktur baru.
Dalam rangka persiapan migrasi ke teknologi 5 G ini maka pemerintah telah bersepakat dengan Huawei, raksasa digital asal Tiongkok, untuk melatih talent di Indonesia terutama terkait teknologi cloud dan pemahaman jaringan 5 G lainnya. Huawei juga telah bersepakat dengan Indosat Ooredo untuk membantu dalam pembangunan jaringan 5 G di wilayah Jakarta dan sekitarnya .
Meskipun raksasa teknologi telco lainnya seperti Nokia dan Ericson sudah uji coba implementasi 5 G di Indonesia, namun pilihan kepada Huawei keliatannya karena harga yang lebih murah 20%-30% disamping fitur teknologi yang dianggap advance.
