Tantangan dan Masa Depan Telkom di Era 5G
Bagaimana posisi Telkom sebagai pemain dominan di pasar Indonesia? Seperti diketahui kinerja Telkom dalam beberapa tahun terakhir bertumbuh dalam pace yang melambat. Era pertumbuhan dua digit yang dinikmati pada periode 2015-2017 yang didorong pertumbuhan mobile data sudah redup. Sepanjang 2018 dan 2019 pertumbuhan revenue perusahaan hanya pada kisaran 5 persen.
Sumber utama pendapatan Telkom group disumbangkan oleh Telkomsel dengan kontribusi lebih dari 65%. Sementara saat ini Telkomsel juga menghadapi tekanan kompetitor yang lebih kuat terutama di pasar luar Jawa dimana XL Axiata dilaporkan berinvestasi cukup agresif.
Bagaimana respon harus dilakukan? Dalam situasi seperti ini keliatannya Telkom perlu melakukan strategi baru untuk mencari mesin pertumbuhan baru. Belum lama ini misalnya Telkom memutuskan untuk berjabat tangan kembali dengan Netflix. Pelanggan Netflix meningkat tajam sejak pandemi Covid-18 dan memaksa banyak orang tinggal di kediaman masing-masing.
Telkom berharap Kerjasama ini bisa mendongkrak pertumbuhan pendapatan. Seperti diketahui jumlah pelanggan Telkomsel saat ini telah mencapai lebih dari 160 juta suscribers, sementara Indosat dan Axiata masing-masing memiliki sekitar 55 juta suscribers.
Strategi baru Telkom keliatannya akan diarahkan menuju “digital telco” dimana beberapa bisnis akan diprioritaskan seperti jasa layanan cloud, big data dan kerjasama dengan beberapa startup bidang telco. Tentu strategi ini juga tidak melepaskan bisnis pada fixed broadband service yang cukup sukses dalam mengembangkan branding Indihome, apalagi demand pada produk ini meningkat sejak pandemi Covid-19 yang memaksa orang untuk lebih banyak tinggal di rumah.
Anak perusahaan lain seperti TelkomSigma juga diharapkan semakin agresif dalam mengembangkan data centre di Indonesia. Demikian pula aksi korporasi yang telah dilakukan dengan penyertaan investasi pada Gojek. Perubahan ini cukup menjanjikan meskipun tantangan tidak ringan. Di bisnis cloud misalnya Telkom harus bersaing melawan raksasa global seperti Alibaba, Google maupun Amazone yang juga sudah masuk ke pasar Indonesia.
