Ternyata, Ini Penyebab BUMN Nasional Kalah Bersaing dengan BUMN Negara Tetangga
BUMNINC.COM I Pengamat BUMN Toto Pranoto menjelaskan mengapa Badan Usaha Milik Negara atau BUMN di Indonesia kalah bersaing dengan negara lain seperti China, Singapura, bahkan Malaysia. Toto menyebut paling tidak ada tiga penyebab.
Pertama, kesulitan menerjemahkan fungsi ganda BUMN, disamping memberikan atau menciptakan nilai sosial, BUMN juga dituntut untuk menciptakan nilai ekonomi (profit).
“Keruwetan ini sering menimbulkan kegamangan bagi BUMN persero yang harus mengorbankan kepentingan komersial untuk kepentingan tugas negara (PSO). Sebagai perbandingan, di Malaysia fungsi BUMN yang berat dengan urusan PSO dikelola oleh Kementrian Teknis, tidak bergabung di Khazanah,” ujarnya, beberapa waktu lalu dikutip Liputan6.
Penyebab kedua, lemahnya daya saing BUMN diduga adalah banyaknya tumpang tindih (overlapping) peraturan atau undang-undang.
“Selain tunduk pada UU BUMN, maka perusahaan negara juga harus tunduk pada UU Keuangan Negara padahal terdapat pasal yang bertentangan,” kata dia.
Kelemahan ketiga adalah rendahnya kualitas tatakelola perusahaan (GCG) yang terbukti atas beberapa kasus korupsi belakangan ini. Kualitas integritas sebagian pemimpin BUMN dan pengawasan dari Dewan komisaris bahkan terlihat lemah.
“Di Temasek, manajemen bekerja secara otonom dan hanya penunjukan pimpinan puncak Temasek (Singapura) yang memerlukan persetujuan Presiden. CEO Khazanah (Malaysia) bertanggung jawab langsung kepada Perdana Menteri sehingga intervensi pihak lain terutama dari kalangan politik dapat diminimalisir,” ungkap Dewan Pakar Bumninc.com tersebut.
Adapun di China sendiri kasus pelanggaran hukum oleh pejabat BUMN bisa dihukum maksimal sampai hukuman mati dan dijalankan dengan konsisten.
Memang, Toto mengakui, dalam konteks organisasi, pengelolaan BUMN di Indonesia berbeda dengan model pengelolaan BUMN di Malaysia dan Singapura.
Kedua negara ini mengelola BUMN di bawah Super Holding Company (SHC) yaitu Khazanah di Malaysia dan Temasek di Singapura. Sedangkan China, pengelolaan BUMN sektor non-finansial dikendalikan oleh SASAC.
“Badan ini hampir serupa dengan model Kementerian BUMN di Indonesia, di mana peran birokrasi masih cukup menonjol dalam pengelolaan dan pengawasan BUMN,” tutur pengajar di FE UI itu.
Toto menjelaskan, secara kinerja kemampuan Temasek dan SASAC sangat luar biasa. Tahun 2018, total aset mereka mencapai USD 342 miliar dan keuntungan sebelum pajak (EBT) sebesar menyentuh USD 10,4 miliar.[]
