Tersendat 14 Tahun, Bagaimana Kabar PSN Pipa Gas Bumi Cisem?
BUMNINC.COM | Sejak penetapan PT Rekayasa Industri (Rekind) sebagai pemenang lelang pipa transmisi ruas Cirebon-Semarang tahun 2006 oleh BPH Migas dan ground breaking pada bulan Februari tahun 2020, sudah 14 tahun pembangunan ruas pipa tersebut mangkrak alias belum ada kemajuan yang berarti, dikarenakan kendala jaminan pasokan gas dan kepastian permintaan.
Padahal proyek pipa gas bumi tersebut akan sangat diperlukan untuk mendukung upaya Presiden Jokowi yang ingin mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batang – Jawa Tengah, yang telah dilakukan peletakan batu pertama pada tanggal 30 Juni 2020. BPH Migas dan Rekind terus melakukan berbagai upaya agar pembangunan pipa gas bumi Cirebon-Semarang (Cisem) yang merupakan Proyek Strategis Nasional dapat segera terwujud.
“Dengan terlaksananya pembangunan pipa transmisi gas bumi ruas Cisem diharapkan dapat mendorong pengembangan kawasan-kawasan industri baru di sepanjang jalur pipa Cisem. Dan para pelaku industri diharapkan dapat beralih dari penggunaan bahan bakar, khususnya HSD dengan memanfaatkan gas bumi dalam pengoperasiannya, sehingga dapat memaksimalkan pemanfaatan gas bumi domestik. Nanti pasokan gas diambil dari Lapangan Utilisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) Bojonegoro yang dikelola Pertamina EP Cepu (PEPC), yang sedang disiapkan, saya berharap 100 MMSCFD,” jelas Kepala BPH Migas M. Fanshurullah Asa, dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/9/2020).
Fanshurullah menjelaskan usulan tersebut saat audiensi dengan anggota Wantimpres Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya. Hal ini akan berdampak terhadap ketersediaan pupuk di Jawa Tengah akan senantiasa terpenuhi untuk perkebunan dan pertanian tanpa menunggu produk dari wilayah lain. Menurutnya saat groundbreaking, HOA sudah siap dan saat ini PT. Rukun Raharja menyatakan juga sudah siap menjadi calon investor yang akan mendanai proyek tersebut.
Direktur Gas Bumi BPH Migas Sentot Harijady dan Direktur Pembangunan PT Rekayasa Industri Achmad Muchtasyar juga menyampaikan kondisi terkait groundbreaking pada Februari 2020 di Batang, yang belum terdapat pembangunan fisik terkait belum adanya kepastian demand di Jawa Tengah.
Terkait hal ini, Anggota Komisi VII DPR RI Ridwan Hisjam mengusulkan adanya pembangunan industri berbasis gas di sepanjang wilayah yang dilalui pipa gas Cisem. Adapun salah usulannya terkait potensi pembangunan pabrik pupuk di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang yang dapat menyerap gas bumi sebesar 100 MMSCFD.
Usulan ini pun juga didukung oleh BPH Migas dan Habib Luthfi melalui usulan nama pabrik pupuk `Diponegoro`. Pasalnya, pembangunan pabrik pupuk menjadi upaya penciptaan demand gas yang maksimal dan juga menciptakan ketahanan pangan di Jawa Tengah.[]


