Toto Pranoto: Pembubaran BUMN Sakit Sebuah Keniscayaan
Menurut Toto, idealnya BUMN perlu dipertahankan asalkan produk dan jasanya masih strategis dibutuhkan publik, serta kondisi keuangan dalam kondisi prima. Sayangnya, sebagian besar BUMN di Indonesia, kondisi produk dan jasa kurang strategis dan kondisinya relatif kurang sehat.
“Ke depan sebagian besar BUMN saya kira kalau bisa diperbaiki kinerjanya supaya menjadi BUMN yang ideal,” ucap Toto.
Toto menyatakan, pemerintah memang perlu memberikan bantuan kepada BUMN yang tidak sehat untuk memperbaiki kinerjanya. Namun, jika bantuan sudah diberikan dan kinerja tidak kunjung membaik, maka likuidasi perlu dilakukan.
Terkait status karyawan pasca pembubaran, Toto menilai ada dua opsi yang bisa dilakukan yakni pemberhentian dan pengalian. Opsi pengalihan bisa dilakukan dengan memberikan pesangon kepada karyawan dan memberikan program pengembangan keterampilan.
“Kalau opsi pengalihan, mungkin karyawan itu bisa dipindahkan ke BUMN lain yang klaster sejenis, tapi tentu dengan syarat-syarat tertentu,” kata Toto.
Menurut Toto, berkurangnya BUMN justru membuat pemerintah bisa fokus untuk meningkatkan daya saing baik di tingkat regional maupun internasional.
“Presiden ingin BUMN kita bisa masuk Fortune 500. Dengan BUMN yang lebih sedikit, kita jadi lebih fokus bersaing dengan BUMN tetangga seperti Temasek. Mereka sudah bisa penetrasi pasar kita, tetapi kita belum bisa penetrasi pasar mereka,” kata dia.
