BUMN 2026: Tahun Ujian dan Peluang Baru dari “Dividen” ke Value Creation
BUMNINC Memasuki 2026, peran BUMN berada di persimpangan: apakah tetap menjadi mesin setoran dividen dan perpanjangan kebijakan jangka pendek, atau naik kelas menjadi korporasi modern yang konsisten menciptakan nilai (value creation)—bagi negara sebagai pemegang saham, bagi publik sebagai pengguna layanan, dan bagi ekosistem bisnis sebagai mitra.
Taruhannya besar karena konteks makroekonomi 2026 memberi ruang bergerak, tetapi bukan ruang yang longgar. Di satu sisi, asumsi APBN 2026 menargetkan pertumbuhan 5,4% dengan defisit 2,68% PDB. Di sisi lain, sinyal eksternal menunjukkan ekspor komoditas tidak otomatis menjadi bantalan setebal beberapa tahun lalu: surplus dagang memang bertahan, tetapi melemah dibanding ekspektasi akibat penurunan ekspor komoditas kunci seperti batu bara, nikel, dan tembaga; sementara inflasi naik ke kisaran atas target namun masih manageable.
Dalam lanskap seperti ini, BUMN tidak cukup “sekadar berjalan.” BUMN harus “berlari lebih rapi”—dengan disiplin portofolio, disiplin investasi, dan disiplin tata kelola.
Makro 2026: Stabil, tapi tidak nyaman
Bank Indonesia sendiri menegaskan inflasi 2025–2026 diprakirakan tetap dalam sasaran 2,5±1%, dengan komitmen menjaga stabilitas rupiah serta dukungan kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk mendorong pertumbuhan. Artinya, secara moneter ada “angin belakang” (tailwind): biaya dana berpeluang tidak seketat era pengetatan global.
Namun “stabil” tidak berarti “mudah”. Sisi fiskal harus menyeimbangkan agenda prioritas yang mahal dengan batas defisit. Dalam situasi begini, kualitas belanja dan kualitas investasi menjadi kunci—dan di situlah BUMN semestinya mengambil peran: bukan sebagai budget replacement, melainkan sebagai capital allocator yang profesional.
