Evaluasi Kinerja BUMN dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)
BUMNINC.COM I Tepat hampir setahun lalu dunia mulai di serang dengan virus Covid-19. Dampaknya pada kemunduran kehidupan ekonomi dan sosial sangat luar biasa. Laporan Biro Pusat Statistik yang dirilis pada akhir Januari 2021 menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sampai dengan minus dua persen. Angka kemiskinan dan pengangguran juga bertambah.
Situasi ini membutuhkan penanganan ekstra radikal, tentu dengan memperhatikan aspek tata-kelola yang baik, supaya recovery ekonomi, kesehatan masyarakat dan sosial bisa berlangsung dengan cepat. Pemerintah telah membuat blueprint pemulihan ekonomi nasional (PEN) sejak Juni 2020.
Berbagai kebijakan terkait insentif fiskal, stimulus sektor dunia usaha, dan insentif lainnya telah diluncurkan. Salah satu motor penggerak ekonomi yang diandalkan adalah BUMN. Sebagai kepanjangan tangan pemerintah maka perusahaan plat merah ini diharapkan bisa muncul sebagai pendobrak kemacetan aktivitas bisnis, membantu akses pelayanan publik yang lebih luas, serta mampu muncul sebagai operator buat strategi padat karya (labor intensive) untuk beberapa proyek massif terutama di sektor infrastruktur.
Nilai injeksi yang dikucurkan pemerintah ke BUMN dalam program PEN 2020 senilai Rp 75 triliun, dimana sebesar Rp 56 T buat penyertaan modal negara (PMN) dan sisanya dialokasikan sebagai pinjaman talangan modal kerja. Pinjaman talangan ini misalnya diberikan ke Garuda Indonesia (Rp 8,5T), lalu ke Krakatau Steel (Rp 3 T) dan untuk KAI sebesar Rp 3,5 triliun.
Sementara program PEN di tahun 2021 dialokasikan sebesar Rp 42,38 T yang seluruhnya dialokasikan sebagai PMN. Perusahaan negara yang menerima program ini diantaranya IFG (BPUI) sebesar Rp 20 triliun, lalu untuk Hutama Karya hampir Rp 6 triliun, penguatan Lembaga Penjamin Ekspor Rp 5 tiliun, serta penguatan modal PT SMF sebesar Rp 2,2 triliun untuk meningkatkan fasilitas likuiditas pinjaman perumahan.
