Evaluasi Kinerja BUMN dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)
Di tahun 2021 ini alokasi PEN untuk BUMN terutama tetap ditujukan bagi fungsi perusahaan negara sebagai agent of development. Misalnya tambahan alokasi modal negara buat HK dimaksudkan supaya ruas jalan tol Sumatra bisa dipercepat koneksinya sekaligus memberikan lapangan pekerjaan buat penduduk setempat dalam proses konstruksinya.
Harapannya tentu multiplier effect ekonomi lokal bisa berputar. Sementara suntikan modal ke BPUI (IFG) tentu tidak bisa dilepaskan dari konteks tanggung jawab pemerintah sebagai shareholder Jiwasraya dalam rangka menyelesaikan kewajiban yang timbul akibat prahara yang terjadi.
Namun ini tentu diharapkan tidak seperti menggarami air laut. Artinya suntikan modal kepada entitas IFG Life (sebagai anak perusahaan IFG) bukan semata untuk membayar klaim ex pemegang polis Jiwasraya namun juga untuk membesarkan IFG Life sebagai perusahaan asuransi jiwa baru milik negara yang kuat dan kompetitif.
Potensi ini sangat terbuka mengingat captive market yang tersedia dan kemungkinan expansi dengan memanfaatkan era teknologi digital saat ini .
Dari konteks injeksi pemerintah kepada BUMN di era PEN ini, baik dalam bentuk tambahan penyertaan modal negara maupun pinjaman talangan modal kerja, dapat dikatakan tujuannya adalah penyelamatan atas perusahaan milik negara akibat dampak Covid-19, upaya percepatan recovery ekonomi melalui pelaksanaan pekerjaan yang dimotori oleh BUMN (sektor kesehatan dan infrastruktur), serta tetap melihat potensi bisnis yang perlu dikuasai perusahaan milik negara seperti investasi di kapal selam yang akan dikerjakan PT PAL.
Hal yang patut dicermati tentu supaya seluruh proses ini bisa dilaksanakan dalam koridor tata-kelola yang baik. Jangan atas nama program emergency maka proses pengadaan atau investasi yang akan dijalankan dilakukan dengan ceroboh, sehingga akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
