Menkes: COVID-19 Pelajaran Berharga, Rentannya Ketahanan Farmasi RI
Kemudian di saat kondisi mulai memburuk pemerintah menyewa sebuah pesawat milik Garuda Indonesia, untuk membawa bahan baku Oseltamivir secara langsung. Tetapi lagi-lagi butuh 2-3 minggu untuk memproduksi obat, sehingga banyak orang kehilangan nyawanya pada tahun pertama pandemi.
Hingga akhirnya pemerintah menemukan Favipiravir dan dibagikan ke rumah sakit pengampu seperti RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, namun sempat tidak bisa dipakai karena tidak ada izin pemakaian obat.
“Itu pertama kali kita belajar soal Mekanisme Jalur Khusus (Special Access Scheme), kemudian ada uji klinis karena waktu itu BUMN yang mulai, bukan rumah sakit pemerintah, itu kita bawa ke rumah sakit BUMN untuk uji klinis, kita butuh dokter dengan sertifikat peneliti. Tapi tidak ada satupun dokter yang memenuhi kriteria,” ucap Menkes Budi Sadikin.
Menkes melanjutkan berbagai upaya sampai akhirnya Indonesia bisa menduduki situasi pandemi yang aman dan terkendali saat ini. Sayangnya, pengalaman lalu merupakan bukti lemahnya dan betapa bergantungnya ketahanan farmasi Indonesia pada impor bahan baku.
Berbekal pengalaman yang penuh perjuangan tersebut, ia meminta agar seluruh pihak lebih memperhatikan kemampuan industri farmasi yang ada di Indonesia. Sebab, farmasi menjadi salah satu pilar yang bisa menopang negara ketika menghadapi suatu wabah atau pandemi.
Dalam kesempatan itu Menkes Budi Sadikin mengajak seluruh pelaku usaha untuk berinvestasi pada farmasi. Bersama para klinisi dan pakar, bisa didata terlebih dahulu kebutuhan prioritas agar transformasi tersebut bisa segera berjalan.
Menkes menilai prospek ini merupakan bisnis yang menjanjikan, tidak hanya dalam rangka meningkatkan mutu kesehatan masyarakat saja, tetapi juga memutar perekonomian negara.
“Makannya saya minta coba bangun ekosistemnya, perizinannya, apa yang dibangun, transparansi datanya bagaimana, apa yang mesti dibangun atau apa yang pasti kita paksa supaya industri-industri mau masuk,” ujar Menkes Budi Sadikin.
