Presiden Serahkan 1.043 Sertifikat Tanah Hingga Bicara Pupuk di Blora
Dia meminta agar lahan yang ada ditanami tanaman produktif seperti jagung dan pohon jati atau jagung dan mahoni agar semua berjalan beriringan antara penanaman tanaman produktif dan kehutanan.
Dalam kesempatan itu Presiden juga sempat berdialog dengan dua penerima SK Perhutanan Sosial bernama Latina dan Yatimin.
Keduanya mengaku akan terus menanam jagung di lahan yang ada. Namun para petani itu juga mengeluhkan masalah pupuk.
Masalah pupuk
Mengenai kelangkaan atau mahalnya harga pupuk, Presiden menjelaskan bahwa masalah pupuk utamanya disebabkan terjadinya perang antara Rusia dengan Ukraina.
“Problemnya sekarang kita (Indonesia) banyak impor bahan dan pupuk dari Rusia dan Ukraina. Sak iki (sekarang) Rusia dan Ukraina lagi perang. Yang kekurangan pupuk bukan hanya Indonesia, negara lain yang tidak punya pabrik pupuk apalagi, tidak dapat apa-apa sama sekali,” terangnya.
Kepala pemerintahan menyadari pupuk selain mahal juga langka.
Dia menyebut dari kebutuhan pupuk Indonesia sebanyak 13 juta ton.
Sejauh ini Indonesia baru bisa memproduksi 3,5 juta ton. Sementara impor pupuk adalah sebanyak 6,3 juta ton.
Sehingga total ketersediaan pupuk adalah 9,8 juta ton dari total kebutuhan 13 juta ton.
“Masih kurang 3,2 juta ton. Oleh sebab itu bulan lalu Pupuk Iskandar Muda di Aceh kita (pemerintah) hidupkan lagi, kita biayai, sudah bisa berproduksi 570 ribu ton. Yo akeh (banyak) tapi dengan kebutuhan kita belum ada apa-apanya. Itu masih jauh dari kebutuhan yang kita inginkan,” jelasnya.
Presiden mengatakan karena jumlah pupuk yang lebih sedikit dari kebutuhan, maka secara hukum pasar menyebabkan harga pupuk naik. Namun pemerintah terus berupaya mengatasi hal tersebut

