Strategi Baru Pulihkan Pengelolaan Bandara
Pengamat BUMN dan Dewan Pakar BUMNINC Toto Pranoto menyatakan, tren kerja sama pengelolaan bandara dengan investor asign sebenarnya sudah sejak lama dilakukan di berbagai negara.
Misalnya di bandara Changi Singapura punya kelolaan bandara di Rusia, India, dan Afrika selatan. Berikutnya Malaysia Airport RHD juga punya kelolaan bandara di India.
“Jadi ini fenomena bisnis biasa. Tujuanya tentu supaya bandara yang dikelola bisa meningkat kemampuan servisnya dan ada peningkatan jumlah penumpang atau kargo yang dilayani,” ujarnya.
Menurut Toto, ada sejumlah benefit dari sisi bandara di Indonesia yang dikelola perusahaan atau investor asing. Dia mencontohkan, Bandara internasinal Kualanamu berkode KNO yang dimenangkan tender pengelolaan dan pengembangnya oleh GMR Airports consortium. Keuntungan yang bsisa didapatkan dia antaranya pihak KNO, dalam hal ini termasuk PT Angkatasa Pura (AP) II (Persero) akan menerima investasi belanja modal (investasi masa depan) yang besar untuk penambahan investasi bandara.
“GMR juga wajib melakukan transfer of technology and knowledge, pengelolaan bandara modern. Serta, GMR akan membuat akses pasar dari Asia Selatan sehingga lalu lintas KNO bisa meningkat. Kalau semua rencana ini berjalan mulus, mestinya keinginan menjadikan KNO sebagai new bush airport bisa tercapai,” ungkapnya.
Toto berpandangan, investor asing akan datang hingga mau menanamkan investasinya di bandara- bandara yang ada di indonesia jika terpenuhi beberapa syarat. Pertama, regulasi yang clear. Kedua, skema penawaran kerja sama investasi yang menarik dengan mitra lokal. Ketiga, prospek bandara yang memang cukup kompetibel bisa dikembangkan ke depan.
Selama pandemi covid-19 melanda dunia sejak maret 2020, industri penerbangan menjadi salah satu sektor paling terpukul. Dampaknya pun secara langsung membuat lalu lintas di bandara bandara dunia termasuk Indonesia, anjlok. Kondisi sama tak terkecuali dialami bandara-bandara yang dikelola oleh AP II.
Pada 2019, jumlah penumpang mencapai 81,5 juta. Namun, ketika pandemi melanda pada awal 2020, lalu lintas penumpang turun menjadi 32, 7 juta penumpang dan 2021 ini diprediksi hanya mencapai 25 juta penumpang.
