Streamlining BUMN: Momentum Semester I 2026 dan Ujian Sesungguhnya di Post-Merger Integration (PMI)
Faktor-Faktor di Balik Perbaikan Kinerja
Ada beberapa faktor yang secara wajar dapat dijelaskan sebagai pendorong perbaikan kinerja ini, dan penting untuk memisahkannya secara jernih agar kita tidak terjebak pada narasi tunggal yang menyederhanakan persoalan.
Pertama, efek langsung dari pemangkasan struktur biaya. Ketika ratusan entitas yang tumpang tindih fungsi, tidak lagi di bisnis inti (core business), atau bahkan sudah lama tidak aktif secara operasional dibubarkan atau digabungkan, dampak paling cepat yang terasa adalah penurunan beban operasional dan belanja modal yang selama ini terserap oleh entitas-entitas tersebut. Ini bukan value creation dalam pengertian penciptaan nilai baru, melainkan cost avoidance—penghematan yang seharusnya memang terjadi sejak lama, mengingat banyak dari perusahaan yang dibubarkan itu sesungguhnya sudah menjadi beban laten bagi neraca konsolidasi negara.
Kedua, perbaikan strategi bisnis di tingkat operasional, yang paling jelas terlihat pada kasus Pupuk Indonesia. Perbaikan delapan pabrik, ekspansi kapasitas produksi, dan langkah diversifikasi pasar melalui ekspor ke Australia adalah contoh konkret bahwa sebagian holding BUMN mulai serius mengubah orientasi dari sekadar pemenuhan kewajiban domestik (misalnya subsidi pupuk) menjadi entitas bisnis yang kompetitif secara global. Pola serupa, meski dengan intensitas berbeda, mulai terlihat di beberapa BUMN tambang dan manufaktur lain yang sebelumnya diragukan kinerjanya, namun kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan struktural, bukan sekadar pemulihan siklikal.
Ketiga, faktor windfall komoditas dan harga pasar juga tidak bisa diabaikan, khususnya untuk sektor pertambangan seperti timah. Lonjakan laba yang sangat tajam pada PT Timah, misalnya, sebagian besar terdorong oleh perbaikan harga komoditas global di samping perbaikan tata kelola internal perusahaan. Di sinilah letak kehati-hatian yang perlu terus saya tekankan dalam berbagai forum: penting untuk membedakan mana perbaikan kinerja yang bersifat struktural—hasil dari reformasi tata kelola, efisiensi biaya, dan perbaikan model bisnis—dengan mana yang bersifat siklikal, semata mengikuti pergerakan harga komoditas di pasar internasional. Kegagalan membedakan keduanya berisiko melahirkan optimisme yang prematur.
Keempat, disiplin eksekusi kebijakan dari otoritas pusat. Danantara dan BP BUMN tampak konsisten menjalankan target percepatan yang semula dijadwalkan rampung 2027 menjadi dipersempit ke 2026, dengan pengawalan manajemen proyek yang lebih intensif. Konsistensi arah kebijakan semacam ini penting karena salah satu penyakit lama transformasi BUMN di Indonesia adalah keputusan yang berubah-ubah setiap kali terjadi pergantian pucuk pimpinan kementerian atau lembaga pengelola.
