Urgensi RUU BUMN 2025 Sebagai Katalisator Peningkatan Daya Saing Korporasi Negara
Dari komparasi tersebut terlihat bahwa dilihat dari size asset dan kinerja pendapatan serta laba/rugi terlihat posisi BUMN Indonesia setara dengan Temasek, bahkan dalam beberapa indicator finansial tersebut terlihat posisi BUMN Konsolidasi lebih baik dibandingkan Temasek.
Namun demikian Kinerja BUMN Indonesia memerlukan beberapa catatan kritis. Misalnya bagaimana situasi pareto condition masih terjadi di perusahaan milik negara ini . Sebagian besar pendapatan dan profit konsolidasi BUMN dihasilkan oleh sedikit BUMN . Untuk tahun 2023 misalnya lebih dari separuh keuntungan BUMN disumbangkan oleh kelompok bank Himbara. Artinya masih terjadi gap yang cukup dalam antara BUMN yang dianggap sudah sehat dan sebagian BUMN lainnya yang masih dalam posisi kurang/tidak sehat.
Gap pareto BUMN ini juga terjadi dalam konteks alokasi sumberdaya manusia. Sebagian besar good talent berkumpul pada BUMN kategori bluechips. Meskipun sudah ada upaya talent pool yang dijalankan Kementrian BUMN namun percepatan redistribusi SDM unggul ini perlu ditingkatkan.
Masalah lain tentu terkait perbaikan kualitas good corporate governance (GCG) di lingkungan BUMN. Adanya beberapa kasus terakhir terkait korupsi dan penyalahgunaan wewenang di lingkup manajemen BUMN menunjukan bahwa kualitan pengawasan di perusahaan milik negara perlu ditingkatkan.
