BUMN Klaster Pariwisata dan Jasa Pendukung: Global Key Trend
Sub sektor airline mengalami pukulan berat dan penurunan value secara global ini disumbang dari perusahaan di seluruh wilayah. Namun demikian, value creation dari usaha pesawat terbang sudah mengalami permasalahan bahkan sebelum pandemi Covid-19. Berdasarkan analisis bisnis airline dari tahun 2012–2019, meskipun kondisi pertumbuhan ekonomi kuat dan harga bahan bakar minyak stabil, kondisi bisnis pesawat terbang mengalami bleeding sebesar 17 miliar USD secara rata-rata per tahun. Di samping itu, dari sekitar 122 carrier (perusahaan pesawat terbang), tercatat sekitar 94 perusahaan (77 persen) merupakan value destroyer dari industri. Sementara, negara dengan maskapai yang dinilai memiliki top performance sebagian besar berasal dari Amerika Serikat.
Gambar 12: Top 10 Maskapai Global yang Menghasilkan Profit, Akumulasi 2012-2019 (Miliar USD)
Sumber: Analisis McKinsey & Company, 2022
Dalam periode 2012-2019, tercatat hanya maskapai di wilayah Amerika Utara yang menghasilkan akumulasi value creation positif sebesar 43,5 miliar USD, sementara nilai value creation wilayah lain seperti Amerika Latin sebesar -12,5 miliar USD; Eropa sebesar -16,8 miliar USD; Afrika dan Timur Tengah sebesar -44,8 miliar USD; dan Asia Pasifik menjadi yang terendah sebesar -102,5 miliar USD. Sementara pada tahun 2021 pendapatan bisnis pesawat terbang meningkat sebesar 27% dibandingkan tahun 2020, namun angka ini masih lebih rendah sebesar 44% dibandingkan pendapatan pada tahun 20199.
Kondisi ini merupakan concern, mengingat bisnis airline merupakan basis utama yang mendukung pariwisata. Kondisi minimnya value creation dari bisnis airline juga menjadi tantangan utama yang dihadapi perusahaan maskapai nasional di berbagai negara, terlebih lagi ketika harus membuka rute yang terbilang kurang menguntungkan secara komersial tetapi memegang mandat untuk mendukung konektivitas antar daerah.
