Menerbangkan Kembali Sang Garuda Indonesia
Sebelumnya, Direktur Keuangan Garuda Indonesia Fuad Rizal menjelaskan pada April, dampak pandemi Covid-19 telah membuat pendapatan operasional turun 89 persen secara tahunan.
“Pandemi ini juga telah menyebabkan arus kas negatif karena peningkataan tunggakan utang dagang perseroan sebesar 47 persen atau sebesar US$236 juta selama kuartal fiskal pertama 2020,” katanya melalui keterangan resmi, beberapa waktu lalu.
Kinerja keuangan perseroan juga tertekan dengan adanya Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 73 yang membuat liabilitas perseroan meningkat US$3,2 miliar. Hal ini juga akan membuat beban bunga meningkat US$124 juta.
Pada periode yang sama perseroan harus mengurangi 83 persen frekuensi penerbangan karena Covid-19. Perseroan juga mengurangi ketersediaan kursi per kilometer sebesar 40 persen sepanjang Januari—April. Adapun, Jumlah penumpang tercatat menurun 45 persen dan faktor muat kursi menurun 15 persen.
“Available Seat per Kilometers [ASK] dikurangi 79 persen dari 1,4 miliar menjadi 289 juta dalam operasi domestik perseroan karena suatu penurunan volume penumpang domestik sekitar 95 persen pada April 2020 dibandingkan April 2019,” katanya.
Penerbangan internasional juga mengalami penurunan sekitar 95 persen pada periode tersebut. Hal ini membuat perseroan mengurangi ASK untuk operasi internasional sebesar 89 persen dan volume kargo internasional hingga 70 persen.
Untuk menghadapi situasi ini, lanjutnya, perseroan telah melakukan berbagai upaya seperti memotong gaji 10 persen—50 persen untuk seluruh karyawan. Belakangan, perseroan juga telah menghentikan sebagian pegawai yang berstatus Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).
Fuad menyampaikan, program efisiensi ini memberi ruang bagi perusahaan untuk menghemat sekitar US$6 juta. Selain itu, perseroan juga dapat menurunkan biaya tunai mingguan menjadi sekitar US$46 juta.
