Menerbangkan Kembali Sang Garuda Indonesia
Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia Toto Pranoto berpendapat Garuda Indonesia memang layak mendapatkan dukungan tambahan dari pemerintah di tengah kondisi saat ini.
Pasalnya, dia menilai Garuda Indonesia berada dalam posisi sulit lantaran adanya pandemi Covid-19 yang membuat permintaan menurun. Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga ikut membuat ruang operasional perseroan kian terbatas.
Dia mengatakan persetujuan para pemegang sukuk serta dukungan dana dari pemerintah memberikan harapan baru bagi Garuda Indonesia. Kini perseroan memiliki kesempatan untuk memperbaiki kinerja operasional dan keuangannya.
“Jadi ini adalah kesempatan Garuda Indonesia untuk menarik nafas dan memperbaiki kinerja operasional dan keuangan, sehinga mudah-mudahan bisa recovery pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (2/6/2020).
Dia menyampaikan bahwa tambahan modal kerja akan menjadi modal perseroan untuk melalui periode sulit. Namun, dia mewanti-wanti penggunaan dana talangan haruslah untuk modal kerja, bukan untuk membayar utang.
Menurutnya, upaya internal Garuda Indonesia dalam memperbaiki struktur beban sejauh ini juga patut diapresiasi. Meski pahit, pemutusan hubungan kerja (PHK) menurutnya memang perlu dilakukan.
“Ke depan struktur organisasinya bisa lebih ramping lagi karena model bisnis berubah ke arah digitalisasi. Perancangan rute baru pascapandemi juga harus dilakukan, termasuk meningkatkan share angkutan logistik,” jelasnya.
Toto mengharapkan segala upaya penyelamatan BUMN seperti Garuda Indonesia dapat berbuah manis. Hal ini juga diharapkan akan membuat persepsi investor terhadap pemerintah maupun ekonomi Indonesia tetap positif.
Sebaliknya, apabila upaya ini tak mampu menyelamatkan Garuda Indonesia, maka persepsi dan kepercayaan investor bisa berantakan. Opsi-opsi seperti privatisasi lanjutan atau mengundang mitra investor strategis baru akan jadi opsi selanjutnya.
*
Sumber: Bisnis.com
