Mi Instan, Definisi Gagah di Segala Medan
BUMNINC.COM | Pembatasan sosial, menjadi hambatan berbagai jenis usaha. Baik dalam hal produksi, distribusi dan modal. Banyak produsen yang terguncang. Namun, tidak dengan mi instan.
Mi instan mulai tetap menjadi primadona di segala situasi. Patokannya bisa dilihat di masa pandemi dan masa pra pandemi. Angka-angka peningkatan terus dicatatkan merek-merek mi instan. Berikut data-data yang dikabarkan kompas.
Meskipun catatan dari BPS, konsumsi mi instan cenderung menurun selama 2015-2020. Tahun 2015, rata-rata konsumsi per kapita 4162 bungkus per bulan.
Tahun 2020 lalu, menurun menjadi 3.626 bungkus. Penurunan itu, dinilai karena masyarakat mengalihkan ke konsumsi jenis makanan lain, seperti beras yang meningkat pada 2019-2020 atau komoditas lainnya.
Namun, masih ada data lain yang menunjukan kegagahan mi instan meskipun pandemi. Penurunan konsumsi mi instan di dalam negeri berbanding terbalik dengan konsumsi global.
Melalui catatan Global Demand for Instant Noodles, permintaan mi instan terus naik. Tahun 2015, konsumsi masih 97,49 juta bungkus dan menjadi 106,42 juta bungkus pada 2019.
Kenaikan permintaan pasar global tersebut bisa dimanfaatkan oleh industri mi instan dalam negeri untuk terus melakukan ekspansi pasar luar negeri. Peningkatan terjadi pada nilai ekspor yang mencapai 255,7 juta dollar AS.
Catatan lain, Riskesdas 2018, menyatakan mayoritas (58,5 persen) masyarakat Indonesia rutin mengonsumsi mi instan 1 hingga 6 kali seminggu. Atau dengan kata lain, rata-rata makan mi instan satu bungkus per hari.

