PT. DI Jajaki Bisnis MRO Bersama GMF
BUMNINC.COM, Indonesia adalah negara kepulauan sehingga kebutuhan pesawat masih terbuka. Oleh karena itu, PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI melihat masih banyak peluang bagi pasar industri dirgantara di Indonesia. Direktur Utama PTDI Elfien Guntoro menegaskan masih banyak peluang pasar di dalam negeri mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Negara kepulauan membutuhkan transportasi melalui moda transportasi laut dan udara.
“Menurut data dari Pricewaterhouse Coopers (PwC), kita melihat terdapat sekitar lebih dari 4.000 rute penerbangan pengumpan atau spoke to spoke namun yang terisi baru 529 rute dengan 223 rute diantaranya masih banyak yang utilisasi load factor-nya rendah,” ujar Elfien dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat (7/8/20).
Dia berkeyakinan produk-produk pesawat PTDI seperti pesawat NC-212 maupun CN-235 maupun nanti proyek pesawat medium N-245 akan sangat kompetitif untuk mengisi rute penerbangan spoke to spoke tersebut.
“Selain itu bisnis yang bisa juga kita tingkatkan yakni bisnis perawatan dan perbaikan atau maintenance, repair, and overhaul (MRO),” kata dia.
Dirut PTDI juga menyampaikan MRO ini perlu ditingkatkan karena ini satu-satunya yang bisa recurring income sehingga bisnis MRO sangat bagus bagi PTDI. Potensi bisnis industri MRO di Indonesia pada tahun 2025 akan mencapai USD2,2 miliar atau meningkat signifikan dari 2016 sebesar USD970 juta.
Dilain pihak, PTDI juga menghadapi masalah pendapatan perusahaan turun 40 persen akibat pandemi Covid-19. Pasalnya jumlah traffic penerbangan menurun drastis dan banyak perusahaan melakukan pembatalan pembelian produk pabrik pesawat pelat merah ini. Tidak menampik kemungkinan dengan memperkuat lini bisnis MRO dapat turut mendongkrak pendapatan perusahaan kedepannya.
Sejalan dengan hal tersebut, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk, (GMF) menyambut jajaran manajemen PTDI pada Kamis, 26 Agustus 2020 dalam rangka penjajakan kerja sama di bidang services dan pengembangan sumber daya manusia. Kerja sama yang dijajaki dan dijalin kemudian ini diharapkan dapat menjadi kolaborasi strategis antara GMF dan PTDI guna mendukung percepatan pemulihan industri penerbangan tanah air di kala pandemi ini.
GMF dan PTDI telah diamanahkan oleh Pemerintah Negara Republik Indonesia untuk bersinergi guna memperkuat industri pertahanan nasional. Hal ini diwujudkan lewat kolaborasi modernisasi pesawat Lockheed Martin C-130H (pesawat angkut militer dan sipil) di mana kedua perusahaan mampu mengkombinasikan kapabilitas masing-masing dalam waktu dekat.
Bertempat di Hangar 4 GMF, PTDI dan GMF menyepakati Nota Kesepahaman yang ruang lingkupnya meliputi kerja sama perawatan pesawat terbang, kerja sama engineering services dan modifikasi pesawat terbang, pengerjaan services/repair komponen pesawat terbang, pengembangan sumber daya manusia di bidang kedirgantaraan, pemanfaatan fasilitas, sarana, dan prasana yang dimiliki, serta kerja sama pengadaan material atau spare part serta pemanfaatan stok yang dimiliki.
