Strategi Percepatan Restrukturisasi BUMN
Memang sudah ada kabar gembira saat Elon Musk memutuskan untuk merelokasi giga factory Tesla ke Indonesia ketimbang India. Tugasnya tinggal bagaimana industri baterai dalam negeri mempercepat aksinya menangkap peluang bisnis tersebut.
Pembentukan Holding BUMN berdaya saing yang kokoh di pasar domestik dan mampu bersaing di pasar regional dan bahkan di pasar global adalah dambaan publik. Studi Booz Allen (2014) menunjukkan, responden dunia usaha Indonesia adalah yang paling tidak siap di ASEAN dalam menghadapi integrasi pasar regional. Indonesia kalah dibandingkan kesiapan Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Isu utama adalah ketidaksiapan menghadapi pesaing adalah tingginya biaya logistik, kesulitan adaptasi menjadi perusahaan skala regional, serta terbatasnya international talent.
Dalam diskusi BUMNINC dengan beberapa top eksekutif BUMN skala regional menyampaikan, bahwa kunci sukses mereka masuk pasar kawasan adalah memahami target market secara detil, due diligence yang akurat, adaptasi budaya, serta penanganan post-merger integration (PMI) secara komprehensif.
Sementara dalam skala global, kinerja BUMN China yang telah menjelma menjadi multinational company seperti Sinopec dan CNP memberikan perspektif berbeda. Mereka telah beroperasi hampir di seluruh penjuru dunia dan bertransformasi menuju korporasi yang berorientasi pada value creation, bukan sekadar ekspansi pasar secara geografis. Dominasi BUMN China dalam Fortune 500 sangat kuat.
Demikian pula kinerja Temasek Group. Orientasinya adalah delivering sustainable value over long-term. Artinya memiliki perusahaan yang kompetitif dan berorientasi jangka panjang sangat dijaga.
Sebagai contoh tingkat NIM perbankan di Singapura adalah yang terendah di ASEAN pada kisaran dibawah 1 % sementara fee-based income nya sekitar 40%. Lalu bandingkan dengan NIM perbankan Himbara yang batas atasnya bisa mencapai 7 % dengan tingkat fee-based income rata-rata sekitar 20%.
