Ambisi Besar Bank Digital di Indonesia
Draft pembahasan regulasi soal bank digital di OJK juga menyebutkan bahwa pendirian bank baru sebagai bank digital disyaratkan modal minimal sebesar Rp 10 triliun. Namun persyaratan minimal modal ini hanya berlaku bagi pendirian bank baru yang fully digital. Sementara besaran modal bank existing yang bertransformasi menjadi bank digital yakni sesuai dengan POJK konsolidasi sebesar Rp 3 triliun pada 2022. Bagaimana persyaratan pendirian bank digital di Singapura? Mengutip dari Otoritas Moneter Singapura (MAS) disebutkan bahwa modal disetor minimal Bank digital adalah US$ 1.13 miliar.
Apa keunggulan Singapura dalam membuka bank digital ini? Terdapat empat entitas yang sudah disetujui MAS untuk membuka bank digital, yaitu : konsorsium Grab-Singtel, Sea (induk dari Shopee), Ant group (operator Alipay- milik Alibaba ) serta Greenland Financial concortium. Grab yang memiliki subscriber sekitar 214 juta pelanggan di enam negara akan dikawinkan dengan Sintel yang memiliki 4 juta pelanggan. Sementara Sea dengan mascot utamanya Shopee, memiliki sekitar 572 juta pelanggan gaming yang aktif. Potensi market ini juga ditunjang oleh transaksi Shopee yang terus bertumbuh.
Pada periode Juli-September 2020 saja, transaksi mencapai 741 juta order sehingga Shopee menjadi salah satu platform terbesar di e-commerce. Bagi perusahaan China seperti Ant atau Greenland maka Singapura menjadi pintu terdepan ekspansi ke pasar ASEAN setelah pasar domestik mereka mengalami maturity.
Bagaimana respons yang diberikan bank konvensional ? Secara umum tentu bank konvensional harus menyiapkan strategi yang tepat melayani gempuran bank digital ini. Beberapa respon sudah diberikan, misal seperti BCA yang akan menjadikan Bank Royal sebagai bank digital. Demikian pula penggunaan aplikasi digital yang massif dilakukan secara ekspansif. Di Singapura raksasa seperti DBS juga melakukan langkah sejenis terutama dengan mengoptimalkan kapabilitas digital mereka dengan penggunaan artificial intelligence.
Fenomena bank kecil diakuisisi untuk tujuan dikonversi menjadi bank digital keliatannya akan semakin marak. Ambil contoh Bank Jago dan BKE. Dari segi skala bisnis, bank kecil akan lebih leluasa untuk mengubah sistem dan cara kerja layanan terhadap nasabah jika dibandingkan dengan bank besar yang mungkin akan butuh waktu lebih lama untuk bertransformasi. Faktor ini keliatannya menjadi pertimbangan yang mempengaruhi keputusan beberapa perusahaan teknologi finansial untuk mengakuisisi saham bank kecil untuk meramaikan eksistensi bank digital di Indonesia.
