Memangkas Tujuh Ratus BUMN, Menyisakan yang Berarti
BUMNINC.COM I Ada satu kalimat Presiden Prabowo Subianto yang, bila dibaca cepat, terdengar seperti angka belaka. Namun, bila direnungkan, sebenarnya itu adalah pernyataan paling jujur tentang penyakit lama perusahaan pelat merah kita. “Kalau tidak salah ujungnya akan menutup kurang lebih 800 perusahaan negara, minimal 700-lah,” ucapnya saat menutup Munas Alim Ulama NU di Bangkalan, akhir Juni lalu. Presiden mengaku terkejut menemukan ada lebih dari seribu entitas BUMN beroperasi—banyak di antaranya tidak menghasilkan untung, melainkan menjadi beban anggaran negara.
Angka itu memang mengagetkan. Tetapi sebelum kita ikut terkejut, mari luruskan dulu apa yang sebenarnya akan terjadi supaya tidak terjadi salah paham di masyarakat.
Bukan “Membunuh” 700 Perusahaan
Frasa “menutup 700 BUMN” terdengar seperti gelombang likuidasi massal—ratusan pabrik gulung tikar, ribuan papan nama dicopot. Realitasnya jauh lebih teknis dan, sejujurnya, jauh lebih masuk akal.
Dari total 1.077 entitas, per Juni 2026 sudah sekitar 258 yang dikonsolidasi, dan target akhirnya mengerucut ke kisaran 200–300 entitas. Artinya, yang “hilang” dari 1.077 menuju sekitar 250 itu sebagian besar bukan perusahaan yang dimatikan, melainkan anak-cucu usaha yang dilebur ke induknya, digabung dengan saudara sektornya, dijual, atau memang dibubarkan karena sudah tak bernyawa. Likuidasi murni hanyalah salah satu dari empat skema—bersama konsolidasi, restrukturisasi, dan divestasi.
Jadi, ketika seorang Kepala BP BUMN menyebut 180 hingga 216 perusahaan sudah “ditata”, itu mencakup semua skema tadi, bukan 216 perusahaan yang dikubur. Pembedaan (distinction) ini penting karena tanpanya publik membayangkan tragedi, padahal yang sedang berlangsung adalah operasi penyederhanaan struktur.

