Memangkas Tujuh Ratus BUMN, Menyisakan yang Berarti
Danantara adalah lembaga yang baru lahir. Entitas ini sedang membangun sistem, tata kelola, dan sumber daya manusianya sendiri—sambil, pada saat yang sama, diminta merestrukturisasi 700-an entitas dalam tempo “secepatnya”. Beban ini luar biasa. Bahkan persoalan dasar pun masih menganga: sejumlah posisi strategis di BUMN hingga pertengahan 2026 masih diisi pelaksana tugas, bukan pejabat definitif. Bagaimana mungkin mengeksekusi bedah korporasi raksasa bila kursi-kursi komando saja belum terisi penuh?
Risikonya konkret. Pertama, kemacetan pengambilan keputusan di pusat—sentralisasi yang memangkas birokrasi lama justru bisa melahirkan birokrasi baru. Kedua, kualitas uji tuntas (due diligence) yang terburu-buru karena dikejar target angka. Ketiga—dan ini yang paling sering jadi persoalan besar—kegagalan integrasi pascamerger. Penciptaan nilai di BUMN kerap gagal bukan di atas kertas perencanaan, melainkan di lapangan integrasi, ketika dua budaya organisasi, dua sistem, dan dua neraca dipaksa menyatu tanpa pengawalan yang memadai. Untuk itu, dibutuhkan Project Management Office (PMO) yang kuat dan independen di setiap gelombang konsolidasi, bukan sekadar surat keputusan.
Kita tentu mendukung penuh tujuan kebijakan ini. Perampingan memang perlu; masalahnya nyata; Pareto-nya valid. Hal yang kami kritik bukan arah, melainkan godaan untuk mengukur sukses dari hal yang tidak tepat.
Karena itu, tiga pesan untuk para pengambil kebijakan perlu diperhatikan: Bedakan secara tegas keempat kuadran dan beri obat yang sesuai—jangan satu resep untuk semua. Sesuaikan kecepatan dengan kapasitas; lebih baik bertahap dan benar daripada cepat dan gagal di meja integrasi. Serta, bangun infrastruktur pengawalan sejak hari pertama karena penghematan Rp50 triliun yang dijanjikan dari hasil konsolidasi BUMN di tahap awal ini bisa berpotensi habis tergerus biaya kegagalan integrasi yang tak terlihat di awal.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi ini tidak akan pernah diukur dari berapa banyak BUMN yang ditutup atau dikonsolidasi. Menutup perusahaan itu mudah; yang sulit adalah memastikan bahwa dari seribu yang dipangkas, yang tersisa benar-benar menciptakan nilai—bagi negara, bagi rakyat, dan bagi perekonomian yang menumpukan harapan padanya. Memangkas seribu perusahaan negara itu pekerjaan akuntan. Menyisakan yang berarti—itu pekerjaan negarawan. Ayo kita bekerja keras.
Toto Pranoto – Dewan Pakar BUMN INC.

