Memangkas Tujuh Ratus BUMN, Menyisakan yang Berarti
Kuadran keempat: non-inti dan sakit. Di sinilah perintah Presiden paling tepat sasaran dan tak terbantahkan. PT INTI yang kini dikaji penutupannya, Djakarta Lloyd yang bermasalah, serta nama-nama yang lebih dulu dibubarkan seperti Merpati Nusantara Airlines, Kertas Kraft Aceh, Iglas, Kertas Padalarang, dan beberapa lainnya. Untuk kategori ini, perlu sikap jelas: jangan dibiarkan menjadi beban berkepanjangan. Tutup dengan tertib dan sesuai aturan.
Kesalahan paling fatal yang bisa dilakukan Danantara adalah mencampuradukkan kuadran kuning dengan kuadran merah—menutup atau menggabungkan paksa entitas strategis yang sebenarnya masih bisa disembuhkan, hanya karena ia kebetulan sedang merugi. Likuidasi untuk yang merah; penyembuhan untuk yang kuning; pelepasan untuk yang biru; penguatan untuk yang hijau. Itulah obat yang diharapkan dapat memulihkan perusahaan negara secara bertahap.
Pelajaran dari BUMN yang Sudah Ditutup
Sejarah, untungnya, sudah memberi kita laboratorium. Perampingan ala Presiden Prabowo bukan barang baru—ini merupakan akselerasi dramatis dari proses yang dirintis di era Menteri Erick Thohir, yang pada penghujung 2023 resmi membubarkan tujuh BUMN: Merpati Nusantara Airlines, Kertas Leces, Istaka Karya, Industri Sandang Nusantara, Industri Gelas (Iglas), Kertas Kraft Aceh, dan PANN.
Ketujuhnya, bila kita tempatkan di matriks tadi, jatuh persis di kuadran merah—sakit dan tak lagi strategis. Merpati sudah berhenti mengudara sejak 2014 dengan akumulasi kerugian menembus Rp8,78 triliun dan ekuitas negatif Rp6,77 triliun. Iglas, yang dulu memasok hampir separuh kapasitasnya untuk botol Coca-Cola, rontok ketika dunia beralih ke plastik. PANN, perusahaan pembiayaan kapal, malah melenceng ke bisnis perhotelan—sebuah pelajaran klasik tentang BUMN yang kehilangan fokus.
Tetapi dua nama menyimpan pelajaran termahal: Kertas Kraft Aceh dan Kertas Leces. Sebelum akhirnya dibubarkan, negara sempat menggelontorkan dana talangan dan restrukturisasi miliaran rupiah untuk “merawat” mereka—KKA saja menerima talangan Rp51,34 miliar dan pinjaman restrukturisasi Rp141,61 miliar. Hasilnya? Tetap dibubarkan. Uang negara menguap untuk menunda penutupan BUMN yang tak terhindarkan.

