Memangkas Tujuh Ratus BUMN, Menyisakan yang Berarti
Inilah peringatan yang harus dipegang Danantara: ketika sebuah entitas sudah benar-benar di kuadran merah, menunda keputusan dengan suntikan modal bukan kebaikan, melainkan pemborosan. Namun—dan ini sisi lain mata uang yang sama—pelajaran ini tidak boleh dipakai untuk membenarkan penutupan tergesa-gesa atas entitas kuadran kuning. KKA pantas ditutup karena ia sudah kehilangan fungsi strategis, bukan semata karena ia merugi. Bedanya tipis, tetapi menentukan.
Janji Tanpa PHK dan Paradoksnya
Danantara berjanji proses ini tidak menimbulkan PHK; seluruh karyawan dipertahankan, dengan argumentasi biaya tenaga kerja entitas yang dikonsolidasi hanya Rp2–3 triliun per tahun—jauh lebih kecil dari potensi penghematan.
Secara sosial dan politik, ini bijak. Tidak ada yang ingin melihat ribuan keluarga kehilangan nafkah atas nama efisiensi. Tetapi secara korporasi, tentu ada paradoks di sini. Jika seluruh karyawan dipertahankan, beban operasional perusahaan hasil penggabungan tetap berat, sehingga cita-cita efisiensi justru lebih sulit dicapai. Ini adalah trade-off yang harus dikelola dengan terbuka, bukan ditutupi dengan retorika.
Efisiensi sejati pada akhirnya menuntut perbaikan proses bisnis, redistribusi tenaga kerja ke unit produktif, dan peningkatan kompetensi—bukan sekadar memindahkan orang dari satu kotak organisasi ke kotak lain. Langkah seperti memberikan opsi pensiun dini bagi karyawan yang sudah masuk kategori menjelang pensiun, serta evaluasi bagi karyawan BUMN dengan rekam jejak kinerja buruk, bisa mengurangi jumlah karyawan hasil konsolidasi. Sementara itu, karyawan yang masih produktif bisa diberikan langkah penguatan melalui program reskilling atau upskilling, kemudian didistribusikan pada BUMN lain yang membutuhkan.
Danantara, Kunci Penting Perubahan
Diagnosis Presiden tepat. Obatnya—pemilahan empat kuadran—pun benar. Tetapi obat yang benar bisa membahayakan bila dosis dan kecepatannya tidak disesuaikan dengan daya tahan pasien dan kapasitas dokternya.

