Memangkas Tujuh Ratus BUMN, Menyisakan yang Berarti
Dan struktur itulah biang keroknya. Persoalan terbesar BUMN kita selama ini bukan semata satu-dua perusahaan rugi, melainkan pelapisan (layering)—induk punya anak, anak punya cucu, cucu punya cicit. Setiap lapis menambah jajaran direksi dan komisaris yang harus dibiayai, menambah transaksi antarperusahaan yang sulit diawasi, dan menambah titik gelap tempat inefisiensi serta rente bersembunyi. Inefisiensi dari rantai berlapis ini ditaksir mencapai sekitar Rp30 triliun, sementara potensi penghematan dari perampingan menyeluruh disebut bisa mencapai Rp50 triliun per tahun. Itu bukan angka kosong: penggabungan subholding di lingkungan Pertamina saja menghasilkan efisiensi sekitar 600–700 juta dolar AS.
Hukum Pareto yang Tak Terbantahkan
Bagi siapa pun yang pernah membedah neraca BUMN, perintah Presiden ini berpijak pada kenyataan yang sulit dibantah: sebagian besar nilai diciptakan oleh segelintir raksasa, sementara ekor panjang entitas justru menggerus. Intinya, blue chips BUMN menjadi aktor yang mendominasi kinerja hampir keseluruhan BUMN.
Lihatlah rapor tahun buku 2025–2026. Pertamina, MIND ID, Himpunan Bank Negara (Himbara), Telkom, dan Pupuk Indonesia menyumbang porsi laba yang dominan. MIND ID saja membukukan laba bersih sekitar Rp29,9 triliun. Empat bank Himbara secara kolektif mencetak laba ratusan triliun. Di seberangnya, sekitar 52 persen BUMN masih merugi, dengan total kerugian menyentuh kisaran Rp20 triliun.
Inilah hukum Pareto dalam bentuk paling telanjang: sedikit yang menanggung banyak, banyak yang membebani sedikit. Mengonsolidasi BUMN dengan kinerja kurang bagus, secara prinsip, adalah keputusan yang benar. Langkah ini membebaskan manajemen induk untuk fokus pada bisnis inti—prinsip yang sejak lama kita yakini sebagai fondasi BUMN yang sehat.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah perampingan perlu dilakukan. Itu sudah selesai diperdebatkan. Pertanyaan yang sesungguhnya—dan yang akan menentukan apakah kebijakan ini menjadi prestasi atau bencana—adalah bagaimana dan secepat apa transformasi tadi terjadi di BUMN.

