Menuju Era Kendaraan Listrik, Siap Nggak? Siap Nggak? Siap Lah Masak Enggak
Pemain Utama Industri Baterai
Setidaknya hal ini yang diutarakan oleh Jongkie Ketua I Gaikindo, menurutnya ada dua hal penting untuk pengembangan kendaraan listrik domestik. Pertama, adanya infrastruktur berupa charging station yang memadai.
Kedua harga yang kompetitif. mengingat 60 persen penjualan kendaraan bermotor di Indonesia berharga di bawah Rp250 juta, sedangkan kendaraan listrik roda empat kebanyakan harganya di atas Rp250 juta.
Infrastruktur lain berupa ketersediaan charging station. Dalam sebuah kesempatan, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan PLN ditargetkan bakal membangun 24.720 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sampai dengan 2030 mendatang.
Komponen lain yang cukup vital di kendaraan listrik ialah ketersediaan baterai kendaraan listrik. Baterai kendaraan listrik menyumbang sekitar 35 sampai 40 persen dari harga kendaraan tersebut.
Namun menurut Toto, soal industri kendaraan listrik Indonesia selangkah lebih maju dengan dibentuknya Indonesia Baterai Corporation atau IBC pada Maret lalu.
Perusahaan holding ini terdiri dari empat perusahaan BUMN antara lain PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero)/Inalum , ANTM , Pertamina dan PLN.
Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana Wirakusumah mengatakan Indonesia punya ambisi besar holding baterainya bisa menjadi pemain global. Menurutnya BUMN berambisi untuk mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik pada 2025.
Indonesia percaya diri bisa menjadi pemain global dalam industri baterai kendaraan listrik, penyebabnya karena Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar. Pada 2018 nikel kita ekuivalen hampir 21 juta ton.
Namun menurut Darmaningtyas, cadangan nikel yang besar tidaklah cukup. Menurutnya masalah utamanya justru soal kultur. Karena baterai akan terproduksi ketika kendaraan listriknya sudah tersedia. Sedangkan sekarang masih terbatas karena harganya masih tinggi. Jadi tergantung juga pada masyarakat menengah atas apakah bisa mempelopori penggunaan kendaraan listrik.
Menurut Darmaningtyas juga, kendaraan listrik bisa berkembang jika harganya kompetitif. Sedangkan baterai kendaraan listrik bisa tumbuh jika kendaraannya berkembang, kalau tidak ya investasinya tidak menarik.
