Menuju Era Kendaraan Listrik, Siap Nggak? Siap Nggak? Siap Lah Masak Enggak
Namun apakah cadangan Nikel yang besar cukup untuk menjadikan Indonesia menjadi pemain global di industri baterai kendaraan listrik? Kan tetap butuh investasi besar?
Kabar baiknya, dia produsen kendaraan listrik terbesar dunia yakni CATL dari China dan LG Chem dari Korea sudah mengisyaratkan akan bergabung dana proyek investasi bernilai 20 miliar dollar AS dalam pengembangan rantai pasokan nikel di Tanah Air.
Targetnya memang pada 2040 sebanyak 57 persen populasi dunia diproyeksi akan menggunakan kendaraan baterai listrik. Tim IBC memproyeksikan permintaan baterai pada 2040 mencapai sekitar 800 gigawatt hour.
Menurut Agus, target IBC tidak muluk, bisa mengisi 10 persen saja di pasar internasional sudah cukup besar.
Tapi lepas dari itu, penting juga untuk meyakinkan masyarakat agar mau beralih ke kendaraan listrik. Karena setidaknya ada lima hal yang menjadi kekhawatiran masyarakat:
- Jarak tempuh yang relatif masih pendek. Walau sebenarnya, rata-rata masyarakat dalam sehari menempuh jarak 50 km setidaknya untuk perjalanan pergi pula menuju kantor.
- Kekhawatiran kehabisan daya di jalan.
- Waktu pengisian daya masih relatif lama. Fitur fast charging tidak menjawab masalah ini, karena bergantung pada kondisi dan kesehatan baterai.
- Kualitas baterai yang cepat rusak. Kalaupun ada yang bagus, kendalanya di harga yang mahal.
- Ketakutan ketika terjadi hujan.
Kekhawatiran inilah yang mesti dijawab oleh para pemangku kebijakan.
Ternyata banyak faktor yang berpengaruh terhadap tumbuhnya ekosistem kendaraan listrik. Ya ketersediaan kendaraannya dengan harga kompetitif, ya infrastruktur pendukungnya, ya juga keikhlasan masyarakatnya buat beralih dan beradaptasi demi keberlangsungan kehidupan di masa depan.
Jadi, siap tidak beralih ke kendaraan listrik? Siap nggak? Siap nggak? Siaplah masak enggak. []
