Resiliensi Klaster BUMN Kesehatan Dalam Era Pandemi
BUMNINC.COM I Salah satu faktor penting dalam memperkuat ketahanan nasional adalah sektor kesehatan. Apalagi dalam situasi serangan pandemi COVID-19 terlihat bagaimana ketahanan kesehatan masyarakat diuji. Bukan saja kemampuan pemerintah yang dipertaruhkan, namun juga stakeholder lainnya.
Dunia usaha, termasuk BUMN sektor kesehatan berperan penting dalam mempersiapkan ketersediaan vaksin, obat, dan alat kesehatan yang diperlukan. Sementara rumah sakit berkontribusi terhadap ketersediaan kamar perawatan dan fasilitas kesehatan yang memadai.
Serangan virus varian Delta pada gelombang kedua COVID-19 ini membuat banyak negara kesulitan menghadapinya, tak terkecuali Indonesia. Daya tahan dan kemampuan sektor kesehatan menangani situasi kritis ini sangat penting dan kritikal.
Seperti diketahui, Pemerintah pada awal tahun 2020 telah membentuk holding sektor farmasi dengan menjadikan PT Bio Farma (Persero) sebagai induknya, sementara Kimia Farma (KAEF) dan Indofarma (INDF) menjadi anggota holding ini.
Dengan terbentuknya holding farmasi diharapkan dapat cepat menciptakan value creation dari sinergi antar perusahaan.
Artinya kalau ada tiga BUMN digabung dalam satu holding, maka nilai holding-nya sama dengan lima atau enam. Kalau nilai holding sama dengan tiga itu artinya buang-buang waktu saja, sementara kalau nilainya hanya dua artinya terjadi value destroyed.
Fasilitas pabrik vaksin Bio Farma telah diakui sebagai produsen vaksin yang lolos sertifikasi Badan Kesehatan Dunia(WHO). Pengalaman Bio Farma juga sudah lebih dari 100 tahun, jadi wajar saja reputasi perusahaan ini sangat baik. Sehingga hal yang wajar manakala ada permintaan untuk menjadikan Bio Farma sebagai hub vaksin COVID-19 di Asia Tenggara.
Sementara itu, Kimia Farma dan IndoFarma bisa memegang peran lain yang signifikan di group holding. Apalagi dengan jaringan outlet di seluruh Indonesia maka KAEF bisa menjadi lokomotif distribusi produk kesehatan yang ideal. Sementara INDF menjadi spesialis di manufaktur obat generik dan alat kesehatan.
Salah satu sumber mahalnya obat di Indonesia adalah kelangkaan bahan baku yang disuplai produsen domestik. Hampir 90 persen bahan baku obat masih impor. Pemerintah lantas menetapkan Kimia Farma untuk mulai bangun pabrik bahan baku obat di 2021.
