Quo Vadis Kinerja Holding BUMN
Induk Holding
Kementerian BUMN akan menunjuk perusahaan pelat merah yang bertindak sebagai induk. Perusahaan induk holding BUMN ini sahamnya akan sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah.
Calon induk holding BUMN dipilih berdasarkan pengalaman yang cukup di sektornya, serta memiliki kualifikasi keuangan yang kuat dan memegang peran penting dalam rantai nilai di industrinya.
Calon induk perusahaan akan menerima inbreng penerbitan saham baru sebagai tambahan modal. Manajemen holding dan anak perusahaan akan ditetapkan oleh pemerintah.
Ke depan holding sektor prioritas yang akan dikembangkan memiliki target yang cukup strategis. Holding migas misalnya, akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan migas nasional yang terus meningkat. Sementara pasokan migas dari dalam negeri terus menurun. Kemudian holding farmasi harapannya bisa meningkatkan sisi ketahanan kesehatan nasional.
Melalui pembentukan holding ini diharapkan juga BUMN Indonesia mampu membukukan performa bisnis yang gemilang seperti yang didapat Temasek, Singapura dan Khazanah, Malaysia. Sehingga, ketika holding BUMN ini berkinerja baik, kontribusi pada penerimaan pajak dan dividen akan meningkat.
Kinerja Holding BUMN
Lalu bagaimana kinerja holding BUMN saat ini? Dari sekitar 10 holding BUMN yang sudah berdiri, beberapa memiliki kinerja yang relatif cukup baik. Holding semen, pupuk, pertambangan, serta holding ultra mikro adalah beberapa contoh yang berkinerja positif.
Indikatornya bisa dilihat dari pertumbuhan tingkat penjualan, size dari aset, penguasaan market share, dan upaya mereka masuk ke pasar internasional.
Beberapa holding BUMN lainnya masih berjuang dalam upaya restrukturisasi untuk perbaikan kinerja. Kelompok holding perkebunan (PTPN) misalnya, masih berjuang keras mencatatkan hasil positif setelah menderita kerugian cukup dalam dalam beberapa tahun terakhir. Angka bottom line yang positif pada tahun buku 2021 menjadi sinyal perbaikan positif.
Demikian pula kelompok industri keuangan non bank yang bergabung dalam holding Indonesia Financial Group (IFG). Tugas berat menanti mereka dalam meningkatkan daya saing perusahaan asuransi yang menjadi anak perusahaan mereka. Apalagi mereka juga harus mengawal kelangsungan bisnis IFG Life, entitas bisnis baru yang dibentuk untuk meneruskan bisnis Jiwasraya.
Sedangkan beberapa holding lain seperti holding BUMN pangan, aviasi, dan jasa survei masih relatif baru berdiri sehingga belum bisa dinilai keberhasilannya.
