Dampak Perang Tarif Jilid Dua AS–China terhadap Daya Saing BUMN Indonesia
Dalam konteks ini, perang tarif AS–China seharusnya dibaca bukan hanya sebagai risiko eksternal, melainkan juga katalis untuk reformasi BUMN secara struktural. Untuk itu, beberapa rekomendasi strategis layak dipertimbangkan:
Pertama, reformulasi model bisnis BUMN berbasis inovasi dan sustainability. BUMN harus bertransformasi menjadi perusahaan inovatif dengan investasi serius pada R&D, digitalisasi, dan pengembangan produk berbasis kebutuhan pasar global. Seperti digariskan oleh World Economic Forum (“The Future of Jobs Report,” 2023), inovasi dan teknologi adalah fondasi daya saing masa depan.
Kedua, percepatan program hilirisasi dan integrasi industri. BUMN sektor sumber daya alam perlu diposisikan sebagai ujung tombak pembangunan industri hilir, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah. Sebagaimana ditunjukkan studi UNIDO (“Industrial Development Report,” 2022), negara-negara berkembang yang sukses naik kelas adalah yang membangun basis industri manufaktur berbasis nilai tambah tinggi.
Ketiga, diplomasi ekonomi aktif dan perluasan pasar ekspor non-tradisional. Pemerintah, bersama BUMN, harus mendorong perjanjian perdagangan bebas (FTA) baru ke Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan. Diversifikasi pasar ini krusial untuk mengurangi ketergantungan pada AS dan China yang kian terpolarisasi.
