Depresiasi Rupiah dan Implikasinya Bagi BUMN
Demikian pula contoh lain di sektor pupuk. Hampir Sebagian produksi pupuk di Indonesia baik urea maupun NCL mengandalkan impor bahan baku, seperti kalium dan fosfat, dari Timur Tengah maupun Kawasan Eropa Timur. Meledaknya tensi politik akibat perang Russia-Ukraina yang menyebabkan seretnya pasokan bahan baku akan bertambah kompleks dengan terjadinya perang Iran-Israel.
Apabila pasokan bahan baku terganggu tentu akan berpengaruh pada volume produksi pupuk dan akibatnya berujung pada kesulitan pasokan pupuk di petani. Maka potensi melemahnya produksi pangan nasional terutama beras juga bisa terjadi. Dan ini tentu punya dampak bagi ketahanan pangan Indonesia. Langkah ke depan PT Pupuk Indonesia bisa melakukan akusisi sumber bahan baku pupuk di Timur Tengah atau Eropa Timur bisa mulai dipikirkan untuk menjamin pasokan yang berkelanjutan.
BUMN anggota Himbara juga tentu perlu menyiapkan diri menghadapi situasi kritis diatas. Terutama menjaga porsi kredit yang terdampak oleh volatilitas rupiah, pergerakan suku bunga dan harga minyak yang terus meroket. Situasi saat ini sangat potensial atas kemungkinan meningkatnya utang korporasi negara, sehingga bank BUMN harus bersiap diri.
Efek depresiasi rupiah juga perlu mendapat respons proaktif bagi BUMN lainnya yang punya currency exposure tinggi. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mungkin memiliki pinjaman dalam dolar Amerika Serikat (USD) untuk membiayai pembangunan infrastruktur kereta api. Depresiasi rupiah akan membuat beban utang KAI dalam rupiah menjadi lebih besar. Hal ini bisa berdampak pada kemampuan KAI untuk membayar cicilan dan bunga utang, serta mengurangi profitabilitas perusahaan.
Demikian pula MIND ID mungkin memiliki utang dalam USD untuk membiayai kegiatan eksplorasi atau pembangunan smelter. Sumber utang bisa dari perbankan ataupun penerbitan global bond. Depresiasi rupiah akan membuat beban utang MIND ID dalam rupiah menjadi lebih besar.
