FENOMENA STRONG DOLLAR DAN ANTISIPASI KORPORASI
Instrumen paling sederhana untuk menjaga nilai tukar debitur tentu kalau bisa melaksanakan natural hedging. Instrumen lain tentu dengan dengan berbagai fasilitas hedging lainnya yang tersedia di market.
Masalahnya biaya hedging tersebut menjadi mahal saat ekonomi bergejolak. Misalnya credit default swap untuk obligasi pemerintah milik Philipina dan Indonesia di angka 1.3% dan 1.4% , rekor angka tertinggi dalam dua setengah tahun terakhir.
Demikian pula negara adidaya seperti China juga mulai antisipasi melemahnya Yuan terhadap dollar. Beberapa korporasi besar mulai melakukan hedging secara signifikan. Data Bank Sentral China yang dikutip Nikkei menunjukkan sekitar US$ 775.8 miliar hutang korporasi China yang dilakukan proses hedging, naik 29 persen dari tahun lalu .
Depresiasi mata uang local mustinya bisa meningkatkan nilai ekspor negara . Namun karena negara tujuan ekspor juga sedang menaikan tingkat suku bunga , maka ekonomi melesu dan permintaan impor menurun. Akibatnya ekonomi memang bisa masuk jurang resesi.
Bagaimana pengaruh strong dollar terhadap korporasi Indonesia ? Kelangkaan dollar jelas sudah terjadi dan Rupiah mengalami depresiasi . Korporasi dengan beban hutang hard currency tentu sangat terdampak . Seperti diberitakan oleh Kontan misalnya, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) rating utang jangka panjangnya dipangkas oleh Fitch Rating Indonesia menjadi CC dari sebelumnya B- . Peringkat CC menunjukkan adanya potensi KIJA gagal bayar utang.
