FENOMENA STRONG DOLLAR DAN ANTISIPASI KORPORASI
Bagaimana utang luar negri BUMN ? Berdasarkan data dari Kata Data Utang luar negeri (ULN) milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengalami peningkatan selama pandemi virus corona Covid-19 yang berlangsung sejak awal 2020. Bahkan, ULN BUMN mencapai US$ 60,28 miliar atau setara Rp 873,8 triliun (kurs Rp 14.469/US$) pada Juni 2021.
Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2020 (year to date/ytd), maka ULN BUMN mengalami kenaikan 5,54%. Sedangkan dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi corona pada Desember 2019, ULN BUMN meningkat 16,57%. Secara rinci, ULN BUMN terdiri dari utang lembaga keuangan dan perusahaan bukan lembaga keuangan. ULN BUMN dari lembaga keuangan tercatat sebesar US$ 12,62 miliar. Kemudian, ULN BUMN yang berasal dari perusahaan bukan lembaga keuangan mencapai US$ 47,66 miliar. Jumlah itu setara dengan 23% dari total ULN swasta yang mencapai US$ 207,21 miliar.
Situasi ini memang menjadi beban berat bagi perusahaan negara yang memiliki kewajiban dalam hard currency tersebut. Apabila misalnya hutang luar negri tadi digunakan untuk belanja capex dengan prudent mungkin efek nya akan sebatas risiko depresiasi rupiah. Namun apabila kemudian dibelanjakan untuk capex secara tidak prudent maka efeknya bisa ganda , kerugian investasi capex plus naiknya beban utang yang harus dibayarkan.
Kita berharap resesi tidak sepenuhnya akan mencengkram Indonesia pada 2023. Beberapa pihak masih optimist bahwa pertumbuhan ekonomi bisa pada kisaran 4%-5% . Tentu pendorongnya harga komoditas yang akan tetap tinggi bisa menjadi motor devisa negara. Disamping secara statistic tingkat ekspor Indonesia secara rata-rata hanya menyumbang 25 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Jadi faktor demand dalam negri sangat berperan signifikan saat ekonomi global sedang lesu.
Toto Pranoto _ Dewan Pakar BUMNINC
